Minggu, 07 Desember 2014

Bulan Kemuliaan Antara Islam Dan Jawa



KH Miftakhul Akhyar 

Islam mengikuti tarikh hijriyah yang dihitung sejak Nabi Muhammad SAW hijriyah dari Makah menuju Madinah pada tahun 622 Masehi. Perhitungan hari dan bulan Hijriyah didasarkan pada peredaran bulan tarikh hijrah yang mempunya 12 bulan. Namun di tengah-tengah masyarakat ada dua hal mengapa pada bulan pertama menurut kalender hijriyah ini dimulyakan, dan terjadi mitos di masyarakat. Pertama, karena bulan ini disandarkan kepada Allah SWT, atau disebut syahrullah (bulan Allah). Kedua, karena bulan ini termasuk salah satu dari keempat bulan yang terkemas dalam asyhurul hurum (bulan-bulan yang mulia). Dan keempat bulan yang mulia itu adalah Dzul Qa’dah, Dzulhijjah, Muharam dan Rajab. Bagi sebagian orang awam terutama orang Jawa hari atau bulan menjadi pertimbangan khusus untuk melakukan aktivitas. Padangan orang Islam mayoritas masyarakat Jawa terhadap bulan Suro, mengalahkan pandangan tentang bulan Muharram itu sendiri sebagai bulan yang dimulyakan. Mereka mendahulukan pemahaman perilaku-perilaku pada bulan Suro, bahkan ada yang berpendapat bahwa bulan Suro adalah bulan yang angker dan keramat. Sampai-sampai banyak orang yang tidak berani menyelenggarakan kegiatan hajatan pada bulan ini. Lebih tragis lagi, ada yang berkeyakinan bahwa hancurnya rumah tangga juga berawal dari penyelenggaraan pernikahan atau apapun pada bulan ini. Na’udhubillah min dzaalik. Jangan sampai ini menjadi keyakinan kita yang sedang menginginkan pendekatan diri kepada Allah SWT. 

Sebagai seorang yang beriman, selayaknya lebih mendahulukan Allah dan RasulNya daripada yang lainnya. Cukuplah berikhtiar sesuai petunjukNya, bertawakkal dan meyakini ketetapanNya. Memang ada suatu hadis yang menunjukkan : Aakhiru arbi’aa’ fi syahri yaumun nahishun mustamir. (Hari Rabu di setiap akhir bulan adalah hari naas dan terus-menerus). Naas yang dimaksud adalah bagi mereka yang meyakininya, bagi yang mempercayainya, tetapi bagi orang-orang yang beriman meyakini bahwa setiap waktu, hari, bulan, tahun, ada manfaat dan ada mafsadah, ada guna dan ada mamadharatnya. Hari bisa bermanfaat bagi seseorang, tetapi bisa juga naas bagi orang lain. Di setiap hari, bulan bahkan tahun ada yang merasakan manfaat, sebaliknya ada yang merasakan madharat. Artinya hadis ini jangan dianggap sebagai suatu pedoman, bahwa setiap hari Rabu akhir bulan adalah hari naas yang harus kita hindari, karena ternyata pada hari itu, ada yang beruntung, ada juga yang buntung. Tinggal kita berikhtiyar meyakini, bahwa semua itu adalah anugerah Allah SWT. 

Anggapan masyarakat Jawa tentang bulan Suro adalah bulan tidak boleh melakukan hajatan, dan pada bulan sebelumnya yakni bulan Besar mereka rame-rame punya hajad, misalnya pernikahan, pindah rumah, sehingga hampir tiap hari di setiap desa minimal tiga sampai empat orang pengantin dalam setiap pekan. Belum lagi saudara, kolega, rekan kerja semua punya gawe bersamaan. Ini akan menyulitkan berbagai fihak. 

Islam memberikan suatu penjelasan dan bangga dan membanggakan dengan bulan-bulan yang telah ditetapkan. Namun Islam juga memberi penjelasan terhadap kepercayaan yang keliru. Sehingga tidak salah dalam menghadapi waktu dan zaman. Kalau mereka menganggap bahwa bulan Suro adalah bulan yang penuh musibah, penuh bencana, kesialan, sekaligus bulan keramat, yang digunakan untuk ritual-rital tertentu, bahkan sampai mengadakan ruwatan, nanggap wayang semalam suntuk dlsb, yang bertujuan untuk terbebas dari yang mereka sebut sukerta, kekotoran dan malapetaka. Adapun umat Islam memandang bulan Muharam (Jawa : Suro), malah justeru bulan yang dimulyakan. Bahkan sebagai bulan awal penanggalan Islam, sedang pada bulan 10 nya, disunnahkan untuk berpuasa Asyura. Karena ada riwayat yang mengatakan bahwa Rasulullah SAW pada hari itu. 

Bulan Muharram (Jawa : Suro) adalah merupakan salah satu dari 4 bulan yang dinamakan bulan haram, bulan di mana diharamkan untuk berperang, menganiaya diri dengan mengerjakan perbuatan yang dilarang, seperti melanggar kehormatan dll. Allah berfirman dalam surah At Taubah : 36 yang maknanya : Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, Maka janganlah kamu Menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa. 

Bangsa Arab adalah bangsa yang hoby berperang, hampir setiap hari berperang, namun khusus 4 bulan yang mulia ini, mereka menghentikan pertikaian, mereka tahu bahwa 4 bulan itu adalah bulan yang mulia. 

Rasulullah SAW bersabda : “Sebagaimana keadaannya sejak Allah menciptakan langit dan bumi, satu tahun ada 12 bulan di antaranya ada 4 bulan yang dimulyakan, yang disucikan, tiga bulannya berturut-turut yaitu Dzul Qa’dah, Dzulhijjah, Muharam, satu bulan lagi adalah Rajab Mudhar, di antara Jumadil Akhir dan Sya’ban”. HR Bukhori dan Muslim. Kenapa bulan-bulan itu disebut bulan yang dimulyakan? Syekh Qadi Abu Ya’la menyatakan : “Dinamakan bulan haram karena ada dua makna ; pertama, pada bulan tersebut diharamkan ada pembunuhan, peperangan. Orang-orang Jahiliyah pun menyakini demikian. Kedua, pada bulan tersebut, merupakan larangan untuk berbuat haram lebih ditekankan dari pada bulan-bulan yang lainnya, karena mulianya bulan tersebut. Demikian pula pada bulan-bulan tersebut sangat baik untuk melakukan amalan-amalan ketaatan. 

Jadi bagi muslimin khususnya yang berada di Jawa tidak ada halanganya untuk melakukan hajatan, misalnya pernikahan pada bulan Suro. Namun semua harus mengutamakan ketentuan-ketentuan syariat Islam daripada tradisi-tradisi yang bisa menyesatkan aqidah kita. Dengan berserah diri penuh tawakkal kepada Allah SWT. 

Di samping itu bulan Muharram (Jawa : Suro) juga merupakan awal dari bulan hijriyah. Bulan ini pula merupakan titik tolak kemenangan Islam. Berkembangnya Islam bertitik tolak dari bulan Muharram (Jawa:Suro) ini, karena pada bulan ini Rasulullah SAW memulai niat berhijrah, walaupun sampai di kota Madinah sudah masuk bulan Rabiul Awal. Dengan demikian bulan Muharram (Jawa : Suro) mempunyai nilai-nilai yang strategis, nilai-nilai kebangkitan Islam, nilai-nilai yang seharusnya kita memperbanyak amal, nilai-nilai optimisme, bukan pesimisme seperti yang terjadi sekarang ini. Silakan anda semua melakukan hajatan apa saja yang baik pada bulan Muharram (Jawa:Suro), baik itu pernikahan, pindah rumah, dll, dengan niatan mengharap keutamaan dan kemulyaan di bulan Muharram (Jawa : Suro) itu, sebagaimana Rasulullah SAW memulai hijrah juga pada bulan itu. Semoga ini menghindarkan kesesatan yang kemungkinan terjadi pada diri kita semua. Dan akhirnya kita bisa menjadi orang-orang muttaqin, yang bersih dari tradisi khurafat yang banyak terjadi di masyarakat dewasa ini. 

Urgensi Mengenal Produk Halal dan Baik



Drs H Abdurrahman Aziz

Dalam hal mengkonsumsi makanan dan minuman manusia terikat pada ketentuan boleh dan tidak boleh. Allah mewajibkan kepda manusia untuk memilih konsumsi makanan dan minuman yang halal dan baik. Sebaliknya Allah mengharamkan menusia mengkonsumsi makanan yang tidak halal. 

Ketaatan manusia dalam melaksanakan hukum-hukum Allah adalam manifestasi daei keimanannya dan merupakan implementasi dari tugas manusia sebagai hamba Allah yang wajib beribadah kepadanya. Halal haram adalah persoalan prinsip. Makanan dalam pandangan Islam adalah masalah umat manusia. Karena makanan yang dikonsumsi memberikan dampak yang luas bagi kehidupan. Di antara pengaruh makanan terhadap kehidupan manusia antara lain : 

1. Mempengaruhi pertumbuhan fisik dan kecerdasan 
2. Mempengaruhi sifat dan perilaku manusia
3.Memperngaruhi perkembangan anak yang akan dilahirkan
4. Mempengaruhi diterima atau ditolaknya amal ibadah dan doa 
5.Mempengaruhi kehidupan akhirat 

Berhubung makanan dan minuman sangat besar pengaruhnya terhadap pertumbuhan fisik dan kecerdasan akal manusia, maka Allah SWT memberikan petunjuk kepada manusia agar hanya mengkonsumsi makanan dan minuman yang halal dan baik (halalan thoyyiban) sehingga akan memberikan pengaruh yang baik bagi hidup manusia. 

Memakan harta yang halal itu baik dan juga menghasilakan yang baik pula. Seseorang yang selalu membiasakan memakan harta yang halal akan menambah cahaya dan sinar keimanan pada hati juga akan menimbulkan kegetaran dan kekhusyukan terhadap kebesaran Allah SWT. Menggiatkan seluruh anggota badan untuk beribadah dan taat, mengurangkan kecenderungan hati pada dunia serta menambah ingatan terhadap hari kiamat. Dengan demikian akan diterimalah amal ibadah serta doa doa kita. Orang yang selalu makan harta yang haram, maka ia akan berada jauh dari segala kebajikan, karena makanan yang haram akan mengeraskan dan menggelapkan hati, mengekang seluruh anggota badan dari perbuatan yang baik dan beribadah dan menjadikan senantiasa cinta dunia. Sebagai penyebab tak dikabulkannya doa. 

Produk halal adalah produk makanan, minuman, obat-obatan, kosmetika, produk kimia, biologis dan rekayasa genetic, dan atau produk lainnya yang terbebas dari bahan-bahan haram dalam proses, penyimpanan dan penyajiannya. Beberapa fakta menunjukkan kendatipun bahan yang haram sedikit tetapi sangat berpeluang mencampuri yang telah halal dalam proses pengolahan, penyimpanan atau penyajiannya sehingga menjadi meragukan kehalalannya. Hal ini dipicu oleh : 

Ijtima’ Ulama Komisi Fatwa III yang diadakan pada tanggal 24 s/d 26 Januari 2009 di Padang Panjang, Sumatera Barat meminta kepada pemerintah dan DPR RI untuk segera menuntaskan pembahasan RUU tersebut dan mengesahkannya menjadi Undang-Undang. 

Sesungguhnya RUU ini sudah lama masuk ke DPR RI untuk dibahas. Tetapi mendapat tantangan atau penolakan dari PDS (Partai Damai Sejahtera) partainya kaum Nasrani. 

Dengan adanya desakan Majelis Ulama Indonesia, semoga pemerintah dan DPR RI segera menuntaskan pembahasan RUU Jaminan Produk Halal dan mengesahkannya menjadi Undang-Undang. 

Wibawa Umat

Prof DR H M Ali Aziz, M.Ag

Dalam Al-Qur’an surah Al Baqarah ayat 13, Allah berfirman tentang sinisme orang-orang kafir terhadap Islam. Yang maknanya : Apabila dikatakan kepada mereka: "Berimanlah kamu sebagaimana orang-orang lain telah beriman." mereka menjawab: "Akan berimankah Kami sebagaimana orang-orang yang bodoh itu telah beriman?" Ingatlah, Sesungguhnya merekalah orang-orang yang bodoh; tetapi mereka tidak tahu. 

Ada seorang raja yang terang-terangan anti Rasulullah namanya ‘Aadi bin Hatim. Ia menganggap, bahwa kehadiran Rasulullah di Madinah mengganggu kelanggengan kekuasaannya. Suatu saat, dia berkata kepada budaknya :”Siapkan beberapa onta, dan ikat di depan rumah saya. Kalau Muhammad datang, beritahukan saya”. Maka ketika sang budak memberitahu, bahwa nabi telah memasuki wilayahnya, segera seluruh keluarganya diangkut dengan onta menuju negeri Syam. Tetapi karena terburu-buru, adiknya yang perempuan tertinggal. Lalu perempuan ini menjadi tawanan umat Islam. Ia ditempatkan di rumah tawanan, dekat jalan lewatnya Rasulullah jika ke masjid. Sehingga setiap kali Rasulullah berangkat ke masjid, wanita itu merengek-rengek : “Wahai Nabi, orang tua saya sudah meninggal, dan kakakku menghilang, tolonglah aku, engkau akan ditolong Allah”. Rasulullah menjawah : “Kakakmu bukan menghilang, kakakmu lari dari Allah, lari dari RasulNya”. Hari ke dua wanita ini juga merengek-rengek lagi, dan Rasulullah menjawab dengan jawaban yang sama. Hari ketiga, walaupun sudah agak takut, namun memberanikan lagi. Kemudian Rasulullah menjawab :”Apa yang kamu inginkan?. “Tolong saya diantarkan ke kakak saya”. pintanya. “Baiklah, kamu sabar menunggu orang yang mengantarkan kamu, karena kamu itu perempuan, nanti kalau sudah ada, kamu akan diantarkan untuk bertemu dengan kakakmu”. Jawab Rasulullah. Rasulullah juga memberi satu onta, sejumlah pakaian, uang secukupnya, diantar sampai ke Syam, hingga bertemu dengan sang kakak. ‘Aadi bi Hatim, sang kakak, yang sangat memusuhi Rasulullah itu, terkejut, melihat adiknya yang tertinggal di Madinah, yang menurut pikirannya tidak mungkin bertemu kembali, diantarkan oleh pasukan Rasulullah, dan diberi beberapa fasilitas lainnya. Melihat perlakukan demikian, maka luluh hatinya. Dan berkata : “Saya harus segera bertemu dengan Nabi di Madinah”. 

Setelah sampai di rumah, Rasulullah SAW mengambil bantal yang empuk, untuk duduknya orang yang memusuhi Nabi ini. Sedangkan Rasulullah duduk tanpa bantal. Kemudian Rasulullah SAW berkata : “Aadi! ada tiga kemungkinan, mengapa kamu tidak masuk Islam. Pertama, karena kamu melihat, orang yang menjadi pengikut saya itu, orang miskin-miskin. Kedua, pengikut saya itu tidak banyak, dan tertindas. Ketiga, kamu melihat bahwa umat Islam tidak memegang tambuk kekuasaan secara penuh”. Hai, Aadi bin Hatim! Pertama, soal kemiskinan, kamu nanti akan melihat, umat Islam akan kaya raya. Kedua, soal jumlah umat Islam, nanti kamu akan melihat, orang-orang non muslim akan berbondong-bondong masuk Islam, tidak hanya itu, suatu saat nanti kamu akan menyaksikan, wanita-wanita naik onta sendirian dalam bepergian yang cukup jauh, artinya dia kaya dan aman. Ketiga, soal kekuasaan, tidak lama lagi beberapa kerajaan akan ada dalam genggaman umat Islam. Mendengar penjelasan demikian, lalu Aadi bin Hatim, masuk Islam. Dan kebetulah dia diberi umur yang panjang, sehingga yang diucapkan Rasulullah SAW semua terbukti dan disaksikan. 

Namun, sekarang kita menyaksikan, ada orang-orang yang kurus, hanya bertulang, tidak berdaging. Kita saksikan saudara-saudara kita di Eitophia, Somalia, Banglades dll, sangat miskin. Kita sudah sulit menyaksikan kesantunan dan keramahan seperti yang diteladankan Rasulullah SAW. Orang yang menyebut dirinya pejuang Islam, dengan enaknya memenggal kepala orang. 

Maka, dalam potret seperti ini, bisa saja sekarang orang-orang sinis dengan muslim dengan mengatakan : “Apakah saya akan masuk Islam mengikuti orang-orang (komunitas) anda yang miskin itu?. Apakah saya akan masuk Islam dengan anda yang radikal itu? Apakah saya akan mengikuti agama anda yang sama-sama muslim saja tega membunuh, apalagi kepada orang lain. 

Rasulullah SAW mengajarkan optimisme, maka apa yang dikatakan oleh Rasulullah SAW, sebentar lagi orang Islam akan kaya, sebentar lagi umat Islam akan jaya, sebentar lagi kekuasaan ada di tangan umat Islam itu harus kita wujudkan. Kewibawaan umat Islam ini tidak bisa dibangun dengan kekerasan, radikalisme. Jangan dikira mereka takut. Justeru benci. Islam harus dibangun dengan kesantunan, keramahan dan kehangatan seperti yang diajarkan oleh Rasulullah SAW. Umat Islam harus jaya. Kalau negera-negara Islam ekonominya kuat, stabil politiknya, maka kita akan menyaksikan lagi pemerintahan seperti pada zaman Umar bin Abdul Aziz. Sehingga, orang-orang tercengang. Dan jika sudah maju, sudah kuat sedemikain rupa, maka agenda selanjutnya adalah kita menengok dan melihat di Palestina, kita pikirkan bagaimana membebaskan Masjidil Aqsha. Masjid ini harus kita rebut, harus berada di tangan kaum muslim kembali. Sehingga 3 masjid bersejarah, Masjidil Haram, Masjid Nabawi, dan Masjidil Aqsha menjadi masjid kebanggaan kaum muslimin. Dan setiap muslim bisa setiap saat, bersujud di sana. 

Selasa, 14 Januari 2014

Bulan Maulud, Bulan Cinta Muhammad Cinta Sesama


Sudah menjadi tradisi di berbagai belahan dunia, ketika memasuki bulan Rabiul Awal seluruh kaum muslimin menyambut bulan mulia  ini dengan kebahagian. Karena pada bulan yang juga terkenal di nusantara dengan bulan Maulud ini, lahirlah manusia kekasih Allah Swt, Muhammad al-Musthofa. Kelahirannya merupakan kegembiraan bagi penghuni langit dan bumi.

Hal itu terekam dalam jejak sejarah, terukir indah di hati para pecintanya, dari umat terdahulu hingga sekarang. Misalnya syair-syair indah dalam kitab Barzanji, karya seorang sufi  bernama Syaikh Ja’far bin Husin bin Abdul Karim bin Muhammad al-Barzanji. Maulid Diba` karangan seorang ulama besar dan ahli hadis yaitu Imam Wajihuddin Abdurrahman bin Muhammad bin Umar bin Ali bin Yusuf bin Ahmad bin Umar ad-Diba`i al-Syaibani al-Yamani al-Zabidi al-Syafi`i. Maupun kitab maulid Simtudduror karangan Habib Ali bin Muhammad al-Habsyi, ataupun kitab-kitab lainnya.

Itulah bukti cinta para pengarangnya dan menjadi warisan yang tak ternilai bagi generasi berikutnya.

Setiap malam di bulan Maulid, mulai di surau di pelosok desa nan sederhana hingga di masjid megah di kota, dilantunkan syair-syair kerinduan, irama syahdu kecintaan, kemuliaan kelahiran, dan keagungan kepribadian Rasulullah. Menerangi penduduk langit, memenuhi ruang rindu hati pecintanya di bumi. Semua larut dalam bahagia, semua hanyut dalam cinta. Inilah bulan Maulid, bulan cinta Muhammad.

Cinta kepada Rasulullah Saw merupakan sebuah kemestian dalam hidup, dan menjadi ciri seorang mukmin. Dalam sebuah hadis Rasulullah Saw bersabda, bahwa bukanlah seorang mukmin hingga Nabi lebih dicintai daripada dirinya sendiri…”.

Dalam hadis lain disebutkan, Rasulullah pun menyebutkan bahwa kecintaan kepadanya merupakan syarat cinta kepada Allah. Cinta kepada Allah Swt tidak akan bisa bila tiada cinta kepada kekasih-Nya, yakni Rasulullah Muhammad Saw.

Bahkan cinta kepada Rasulullah, merupakan salah satu  pendidikan wajib orang tua kepada anak-anaknya. Dalam sebuah hadis Rasulullah bersabda: “Didiklah anak-anak kalian dengan tiga hal; cinta kepada nabi kalian, cinta kepada Ahlul Bait nabi kalian dan ajarilah membaca al-Quran.”
 Akan tetapi cinta kepada beliau tentunya bukan hanya sekedar pemanis bibir belaka, sebab cinta sebenarnya adalah cerminan jiwa, kristalisasi hati yang harus nyata dalam perilaku keseharian.

Cinta kepada Rasulullah tidak cukup hanya dengan membaca syair-syair kerinduan yang diciptakan para ulama terdahulu. Dengan hanya menghadiri majlis-majlis maulud bukan berarti telah terjawab cinta sebenarnya kepada Rasulullah! Karena cinta selalu memiliki ciri-ciri, dan Imam Ali as dalam sebuah hadis mengatakan: “Apabila seseorang mencintai suatu hal, maka ia akan selalu mengingatnya.”

Rasulullah adalah pribadi agung dan mulia, semua perilakunya adalah teladan bagi umat manusia. Allah Swt pun memujinya dalam al-Quran, sebuah pujian yang tidak dimiliki selain nabi Islam ini. Maka cinta sejati kepada Rasulullah harus terefleksi dalam diri setiap Muslim, sehingga keagungan pribadi Nabi terbias nyata dalam perilaku umat pecintanya.

Dewasa ini, boleh dikatakan umat Islam telah jauh dari nabinya sendiri. Sebab jauhnya akhlak umat Islam dari akhlak nabinya. Misalnya, ketika menghadapi perbedaan atau perselisihan meskipun dengan sesama muslim sendiri, lebih cenderung mengedepankan kekerasan dan kontak fisik, mengesampingkan dialog dan toleransi. Kekerasan telah menjadi opsi dan masing-masing merasa paling Muslim serta memilih anarkisme sebagai solusi perbedaan. Pemikiran semacam ini hanya akan menghancurkan nilai-nilai Islam dan semakin menjauhkan umat dari kecintaan kepada Muhammad.

Seperti kasus sektarian di sampang antara Sunni dan Syiah, kalau jalan cinta kepada Rasulullah sebagai penyelesaian tentu tidak akan menimbulkan kerugian seperti yang terjadi. Kerugian sebenarnya adalah ketika umat terpecah dan raibnya kasih sayang serta pemanfaatan musuh dari kondisi tersebut dan memancing di air keruh.

Upaya musuh Islam sebenarnya adalah menjauhkan umat ini dari nabinya sendiri. Maka diciptakanlah pemikiran-pemikiran yang jauh dari Islam, sehingga melupakan ajaran agung dan akhlak mulia sang nabi.

Dalam Surat al-Fath ayat 59, Allah Swt berfirman: “Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi mengasihi sesama.”

Namun kini kondisinya justru terbalik, sesama Muslim bermusuhan dan tidak ada kasih sayang. Bermesraan dengan musuh dan bekerjasama dengan mereka untuk menghancurkan saudara sendiri. Sikap ini otomatis menghancurkan umat dan tidak mencerminkan ciri sebagai Muslim, sebagai pecinta nabi Muhammad.

Bulan maulud, merupakan saat yang tepat kaum Muslim untuk bersama-sama memperingati kelahiran keagungan Nabi Muhammad Saw, dan memupuk kembali cinta dan kebersamaan. Ketika mahalul qiyam  dalam pembacaan syair “Marhaban ya nurul `ain, marhaban ya Jaddal Husain…” saatnya umat Islam mengenyampingkan perbedaan dan bergandengan tangan. Maulud adalah bulan cinta Muhammad, bulan cinta dan persatuan. Maulud adalah milik umat Islam, dan Muhammad merupakan teladan umat Islam.

Sayyid Ali Khamenei, pada peringatan tahun baru kalender Persia tahun 1385 HS, beliau mencanangkan tahun itu sebagai “Tahun Nabi Yang Agung.” Muhammad Rey Syahri dalam pengantar bukunya yang berjudul Nabi al-Rahmah min Mizhar al-Quran wa Ahlul Bait, mengulas sedikit tentang makna pesan Rahbar ini.

Menurutnya, itu adalah kesempatan dan momen yang sangat strategis untuk memperkenalkan manusia paripurna, Nabi besar kita Muhammad saw kepada dunia Islam khususnya dan ke seluruh penjuru dunia pada umumnya.

Pengarang The Elixir of Love ini menambahkan bahwa untuk menghadapi konspirasi dan perang budaya, kita harus bisa menggunakan kesempatan yang bernilai ini untuk memperkenalkan berbagai dimensi dari kepribadian Rasulullah Saw secara benar.

Berikut kutipan dari pesan pemimpin Islam yang mesti kita cermati dan amalkan, yang diambil dari situs leader.ir :

“Saat ini, kenangan dan nama Rasulullah Saw lebih hidup dan ini merupakan salah satu hikmah dan kemurahan dari Allah Swt. Dewasa ini umat Islam dan bangsa kita lebih memerlukan bimbingan Nabi, petunjuk, peringatan dan ancaman yang beliau bawa, pesan, spriritualitas, dan kasih sayang yang diajarkan beliau kepada umat manusia. Saat ini ajaran yang dibawa Rasulullah SAW kepada umatnya dan kepada seluruh umat manusia, adalah ajaran untuk menjadi pintar dan kuat, ajaran akhlak dan kemuliaan, ajaran kasih sayang, jihad, keagungan, dan ajaran resistensi.

Maka pasti nama untuk tahun ini adalah tahun Nabi yang agung. Di bawah naungan nama penuh kenangan ini, bangsa Iran harus menelaah kembali ajaran Rasulullah Saw dan mengubahnya menjadi pelajaran hidup dan agenda keseharian. Bangsa kita bangga menjadi murid agama Nabi dan pelajaran bimbingan Rasulullah Saw. Bangsa kita telah menegakkan panji Islam di antara umat Islam dengan ketegaran dan kekuatan, sabar atas segala kesulitan, dan telah menggapai kesuksesan dalam partisipasi di kancah penuh kemuliaan dan kebanggaan ini, serta berkat pertolongan Allah swt, bangsa Iran akan menggapai keberhasilan yang lebih banyak lagi.

Pelajaran akhlak, kemuliaan, pencarian ilmu, rahmat, keagungan, persatuan dan pelajaran kehidupan yang diajarkan Nabi Saw kepada kita, harus kita terapkan dalam program hidup kita sehari-hari. Hari ini, muncul sebuah pemerintahan yang penuh dengan tekad pengabdian yang berada di tengah-tengah medan bersama dengan masyarakat yang siap untuk bekerja dan memiliki harapan yang meluap-luap, serta bersama dengan para pemuda yang bersemangat dan berbakat. Ini merupakan harapan besar bagi masa depan negara dan bangsa kita”.