persiapan uji kompetensi
Jumat, 22 November 2013
Selasa, 30 Juli 2013
Indahnya bulan suci ramadhan
Indahnya bulan suci ramadhan
Salah satu keistimewaan bulan Ramadhan adalah Allah SWT membuka peluang lebar-lebar bagi kita untuk membersihkan dosa dan kesalahan yang selama ini dilakukan asal kita melaksanakan puasa Ramadhan dan benar - benar ibadah dibulan suci ini secara sungguh dengan landasan iman dan ikhlas serta tidak melakukan dosa-dosa besar. Tentang hal ini, Nabi Muhammad saw menyatakan:
Siapa saja yang berpuasa pada bulan Ramadhan dengan landasan iman dan ikhlas akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. (HR Ahmad).
Shalat lima waktu, Jumat ke Jumat, dan Ramadhan ke Ramadhan menghapus dosa di antaranya selama dosa-dosa besar dijauhi. (HR Muslim).
Saking bersihnya kita dari dosa, sekeluar kita dari Ramadhan, kuta digambarkan bagaikan baru dilahirkan kembali oleh ibu kita.
Siapa saja yang berpuasa dan shalat malam (tarawih) karena iman dan ikhlas akan keluar dari dosanya seperti hari dia dilahirkan oleh ibunya. (HR Ibn Majah dan al-Baihaqi).
Begitu mudahkah Allah SWT mengampuni dosa-dosa kita? Jawabnya, ya. Yakinlah, Allah SWT pasti akan menerima tobat kita.
Sesungguhnya Allah pasti menerima tobat hamba-Nya selama belum mengalami sakratulmaut. (HR at-Tirmidzi).
Bahkan dalam hadis yang lain dijelaskan bahwa Allah SWT sesungguhnya sangat bergembira menyaksikan hambanya yang-meski berlumuran dosa-datang untuk bertobat lebih bergembira dibandingkan dengan orang yang dalam perjalanan di padang pasir menemukan kembali ontanya yang penuh perbekalan, yang sebelumnya hilang.
Muslim yang baik bukanlah orang yang tidak pernah melakukan kesalahan, karena itu tidak mungkin. Sudah menjadi tabiat manusia melakukan kesalahan dan kekhilafan. Di samping dorongan hawa nafsu dan tarikan lingkungan juga karena memang setan telah berjanji akan terus menggoda manusia. Akan tetapi, kata Nabi, sebaik-baik orang yang melakukan kesalahan adalah yang bersegera bertobat.
Setiap manusia berbuat kesalahan dan sebaik-baik orang yang melakukan kesalahan adalah mereka yang mau bertobat. (HR Ad-Darimi).
Jadi, sudahkan Anda bertobat? Alhamdulillah bila sudah. Salah satu syarat tobat kita diterima Allah adalah, seperti dalam ayat di atas, kita berjanji untuk tidak mengulangi kesalahan itu. Di sinilah peran penting puasa yang disebut Nabi bagaikan benteng untuk kita tidak melakukan kesalahan.
Puasa bagaikan benteng (yang mencegah perbuatan keji dan mungkar). (HR al-Bukhari).
Kemuliaan Ramadhan
Ramadhan memang bulan mulia. Di dalamnya terdapat malam yang lebih baik daripada seribu bulan. Dalam bulan Ramadhan pula diturunkan al-Quran sebagai petunjuk hidup manusia, penjelas dan pembeda antara yang haq dan yang batil.
Bulan Ramadhan yang di dalamnya diturunkan al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia, penjelas dari petunjuk itu, dan pembeda. (QS al-Baqarah [2]: 185).
Begitu banyak pujian Allah untuk bulan Ramadhan dan keistimewaan yang diberikan Allah untuk orang-orang yang berpuasa. Berbeda dengan ibadah yang lain, puasa dinyatakan untuk Allah sendiri:
Setiap amal manusia untuknya kecuali puasa. Puasa untuk-Ku dan Aku yang akan membelasnya. (HR al-Bukhari dan Muslim).
Bahkan dikatakan, bau mulut orang yang berpuasa (dan itu wajar karena seharian tidak kemasukan makanan atau minuman) ternyata pada sisi Allah lebih harum daripada bau minyak kesturi.
Sungguh, demi Zat yang jiwa Muhammad berada dal;am genggaman-Nya, bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah pada Hari Kiamat darpada wangi minyak kesturi. (HR Muslim).
Dalam bulan Ramadhan, Allah yang Maha Pemurah menjadi lebih pemurah lagi. Dilipatkangandakan-Nya perhitungan pahala orang yang berbuat kebajikan. Siapa saja yang melakukan ibadah sunnah dihitung melakukan kewajiban dan yang melakukan kewajiban dilipatkangandakan pahalanya 70 kali dibandingkan dengan melakukan kewajiban di luar bulan Ramadhan.
Siapa saja yang mendekatkan diri kepada Allah dengan kebajikan (sunnah), dinilai sama melakukan fardhu di bulan lain. Siapa saja yang melakukan fardhu, dinilai 70 kali melakukan fardhu di bulan lain. (HR Ibn Khuzaimah).
Bahkan Allah juga akan menambah rezeki orang-orang beriman di bulan puasa ini.
Sesungguhnya engkau akan dinaungi bulan yang senantiasa besar lagi penuh berkah, bulan yang di dalamnya ada suatu malam yang lebih baik daripada seribu bulan. Ramadhan adalah bulan sabar dan sabar pahalanya surga. Ramadhan adalah bulan pemberian pertolongan dan bulan Allah menambah rezeki orang Mukmin. (HR al-Bukhari dan Muslim).
Dikatakan juga bahwa puasa memberikan kebahagiaan kepada yang melakukan, yakni ketika berbuka dan ketika bertemu Allah SWT kelak.
Untuk orang yang berpuasa ada dua kebahagiaan: ketika berbuka, ia senang dengan bukanya; ketika berjumpa dengan Allah kelak, ia senang dengan puasanya. (HR Muslim).
Benar sekali. Sepanjang hidup kita, tak terhitung sudah kita makan berbagai makanan. Akan tetapi, mengapa setiap berbuka, kita merasakan sesuatu yang berbeda. Ada perasaan lega, syukur, nikmat dan bahagia yang tak terkatakan. Semua itu tentu hanya bisa dirasakan oleh orang yang menjalankan puasa. Tidak aneh, saat berbuka adalah waktu yang ditunggu-tunggu oleh siapapun yang berpuasa.
Tentang kebahagiaan kedua, yakni saat bertemu dengan Allah, Nabi menyatakan bahwa puasa akan memberikan syafaat (pertolongan) kepada yang melakukannya dan menghindarkannya dari jilatan api neraka.
Puasa dan al-Quran akan memberi syafaat pada Hari Kiamat. Berkata Puasa, “Ya Tuhan, Engkau larang hamba-Mu makan dan memuaskan syahwat pada siang hari, dan sekarang ia meminta syafaat padaku karena itu.” (HR Ahmad).
Tidak berpuasa seorang manusia satu hari dalam jihad fi sabilillah kecuali dengan itu Allah menghindarkan dirinya dari neraka selama tujuh puluh tahun. (HR al-Bukhari dan Muslim).
Tentang indahnya bulan Ramadhan, Nabi yang mulia mengatakan:
Seandainya manusia mengetahui kebaikan-kebaikan bulan Ramadhan, niscaya mereka mengharapkan sepanjang tahun adalah bulan Ramadhan. (HR Ibn Abi Dunya).
Bagaimana dengan kita, apakah juga mengharapkan sepanjang tahun menjadi bulan Ramadhan?
Apa yang kita dapat di bulan suci ini,,,,???
Pertanyaan penting setelah kita melaksanakan puasa Ramadhan sekian hari lamanya adalah, apa yang sudah kita dapatkan dari puasa kali ini? Jawabannya tentu berpulang pada bagaimana kita memaknai puasa Ramadhan itu sendiri. Bila puasa dimaknai sekadar tidak makan dan minum serta tidak melakukan yang membatalkan puasa, tentu hanya itu pula yang bakal didapat. Puasa memang merupakan ibadah dalam bentuk tidak mengkonsumsi makanan dan minuman serta tidak melakukan hal yang membatalkan puasa pada siang hari Ramadhan. Itu betul. Akan tetapi, Nabi sendiri menyatakan:
Bukanlah puasa dari sekadar menahan makan dan minum tapi puasa yang sesungguhnya adalah menahan dari laghwu dan rafats. (HR Ibn Khuzaimah).
Itu menunjukkan bahwa ada makna yang lebih dalam dari sekadar menahan lapar dan dahaga.
Selama puasa, kita dilarang makan dan minum serta berhubungan seksual dengan istri atau suami kita. Padahal, makanan dan minuman itu halal, serta suami atau istri pun juga halal. Ternyata, dengan tekad dan kemauan yang besar, kita bisa. Nah, bila untuk menjauhi yang halal saja bisa, mestinya dengan tekad yang sama, semua perkara yang haram, lebih bisa lagi kita ditinggalkan.
Puasa Ramadhan memang adalah bulan riyâdhah (latihan) untuk meningkatkan kemauan kita untuk taat kepada aturan Allah. Bila berhasil, kelak di penghujung bulan Ramadhan kita benar-benar bisa disebut muttaqîn (orang yang bertakwa), yakni orang yang mempunyai kemauan yang kuat untuk senantiasa melaksanakan perintah dan menjauhi larangan Allah SWT. Artinya, semestinya pada bulan lain setelah Ramadhan, kita menjadi lebih taat kepada syariat-Nya.
Lalu, mengapa kenyataannya tidak demikian? Tetap saja, kemaksiatan terjadi di mana-mana. Karena negeri ini rakyatnya mayoritas Muslim, pelaku kejahatan juga tentu kebanyakan Muslim. Pelacuran dan perjudian marak di mana-mana; pornografi dan pornoaksi tetap saja terjadi; korupsi makin menjadi-jadi; dan sebagainya. Jika demikian, mana pengaruh puasa yang setiap tahun dilaksanakan?
Kita ternyata memang selama ini kurang peduli terhadap esensi ibadah. Shalat rajin, maksiat juga rajin. Haji ditunaikan, korupsi digalakkan. Bacaan al-Quran dilombakan, tetapi ajarannya dilecehkan.Nabi Muhamad saw bersabda :
Betapa banyak orang berpuasa tidak mendapatkan apa-apa kecuali lapar dan betapa banyak orang yang menghidupkan malam tidak mendapatkan apa-apa kecuali begadangnya saja. (HR Ibn Majah).
Oleh sebab itu selagi masih ada kesempatan mari kita jalani bulan suci ini dengan sungguh - sungguh.
Salah satu keistimewaan bulan Ramadhan adalah Allah SWT membuka peluang lebar-lebar bagi kita untuk membersihkan dosa dan kesalahan yang selama ini dilakukan asal kita melaksanakan puasa Ramadhan dan benar - benar ibadah dibulan suci ini secara sungguh dengan landasan iman dan ikhlas serta tidak melakukan dosa-dosa besar. Tentang hal ini, Nabi Muhammad saw menyatakan:
Siapa saja yang berpuasa pada bulan Ramadhan dengan landasan iman dan ikhlas akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. (HR Ahmad).
Shalat lima waktu, Jumat ke Jumat, dan Ramadhan ke Ramadhan menghapus dosa di antaranya selama dosa-dosa besar dijauhi. (HR Muslim).
Saking bersihnya kita dari dosa, sekeluar kita dari Ramadhan, kuta digambarkan bagaikan baru dilahirkan kembali oleh ibu kita.
Siapa saja yang berpuasa dan shalat malam (tarawih) karena iman dan ikhlas akan keluar dari dosanya seperti hari dia dilahirkan oleh ibunya. (HR Ibn Majah dan al-Baihaqi).
Begitu mudahkah Allah SWT mengampuni dosa-dosa kita? Jawabnya, ya. Yakinlah, Allah SWT pasti akan menerima tobat kita.
Sesungguhnya Allah pasti menerima tobat hamba-Nya selama belum mengalami sakratulmaut. (HR at-Tirmidzi).
Bahkan dalam hadis yang lain dijelaskan bahwa Allah SWT sesungguhnya sangat bergembira menyaksikan hambanya yang-meski berlumuran dosa-datang untuk bertobat lebih bergembira dibandingkan dengan orang yang dalam perjalanan di padang pasir menemukan kembali ontanya yang penuh perbekalan, yang sebelumnya hilang.
Muslim yang baik bukanlah orang yang tidak pernah melakukan kesalahan, karena itu tidak mungkin. Sudah menjadi tabiat manusia melakukan kesalahan dan kekhilafan. Di samping dorongan hawa nafsu dan tarikan lingkungan juga karena memang setan telah berjanji akan terus menggoda manusia. Akan tetapi, kata Nabi, sebaik-baik orang yang melakukan kesalahan adalah yang bersegera bertobat.
Setiap manusia berbuat kesalahan dan sebaik-baik orang yang melakukan kesalahan adalah mereka yang mau bertobat. (HR Ad-Darimi).
Jadi, sudahkan Anda bertobat? Alhamdulillah bila sudah. Salah satu syarat tobat kita diterima Allah adalah, seperti dalam ayat di atas, kita berjanji untuk tidak mengulangi kesalahan itu. Di sinilah peran penting puasa yang disebut Nabi bagaikan benteng untuk kita tidak melakukan kesalahan.
Puasa bagaikan benteng (yang mencegah perbuatan keji dan mungkar). (HR al-Bukhari).
Kemuliaan Ramadhan
Ramadhan memang bulan mulia. Di dalamnya terdapat malam yang lebih baik daripada seribu bulan. Dalam bulan Ramadhan pula diturunkan al-Quran sebagai petunjuk hidup manusia, penjelas dan pembeda antara yang haq dan yang batil.
Bulan Ramadhan yang di dalamnya diturunkan al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia, penjelas dari petunjuk itu, dan pembeda. (QS al-Baqarah [2]: 185).
Begitu banyak pujian Allah untuk bulan Ramadhan dan keistimewaan yang diberikan Allah untuk orang-orang yang berpuasa. Berbeda dengan ibadah yang lain, puasa dinyatakan untuk Allah sendiri:
Setiap amal manusia untuknya kecuali puasa. Puasa untuk-Ku dan Aku yang akan membelasnya. (HR al-Bukhari dan Muslim).
Bahkan dikatakan, bau mulut orang yang berpuasa (dan itu wajar karena seharian tidak kemasukan makanan atau minuman) ternyata pada sisi Allah lebih harum daripada bau minyak kesturi.
Sungguh, demi Zat yang jiwa Muhammad berada dal;am genggaman-Nya, bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah pada Hari Kiamat darpada wangi minyak kesturi. (HR Muslim).
Dalam bulan Ramadhan, Allah yang Maha Pemurah menjadi lebih pemurah lagi. Dilipatkangandakan-Nya perhitungan pahala orang yang berbuat kebajikan. Siapa saja yang melakukan ibadah sunnah dihitung melakukan kewajiban dan yang melakukan kewajiban dilipatkangandakan pahalanya 70 kali dibandingkan dengan melakukan kewajiban di luar bulan Ramadhan.
Siapa saja yang mendekatkan diri kepada Allah dengan kebajikan (sunnah), dinilai sama melakukan fardhu di bulan lain. Siapa saja yang melakukan fardhu, dinilai 70 kali melakukan fardhu di bulan lain. (HR Ibn Khuzaimah).
Bahkan Allah juga akan menambah rezeki orang-orang beriman di bulan puasa ini.
Sesungguhnya engkau akan dinaungi bulan yang senantiasa besar lagi penuh berkah, bulan yang di dalamnya ada suatu malam yang lebih baik daripada seribu bulan. Ramadhan adalah bulan sabar dan sabar pahalanya surga. Ramadhan adalah bulan pemberian pertolongan dan bulan Allah menambah rezeki orang Mukmin. (HR al-Bukhari dan Muslim).
Dikatakan juga bahwa puasa memberikan kebahagiaan kepada yang melakukan, yakni ketika berbuka dan ketika bertemu Allah SWT kelak.
Untuk orang yang berpuasa ada dua kebahagiaan: ketika berbuka, ia senang dengan bukanya; ketika berjumpa dengan Allah kelak, ia senang dengan puasanya. (HR Muslim).
Benar sekali. Sepanjang hidup kita, tak terhitung sudah kita makan berbagai makanan. Akan tetapi, mengapa setiap berbuka, kita merasakan sesuatu yang berbeda. Ada perasaan lega, syukur, nikmat dan bahagia yang tak terkatakan. Semua itu tentu hanya bisa dirasakan oleh orang yang menjalankan puasa. Tidak aneh, saat berbuka adalah waktu yang ditunggu-tunggu oleh siapapun yang berpuasa.
Tentang kebahagiaan kedua, yakni saat bertemu dengan Allah, Nabi menyatakan bahwa puasa akan memberikan syafaat (pertolongan) kepada yang melakukannya dan menghindarkannya dari jilatan api neraka.
Puasa dan al-Quran akan memberi syafaat pada Hari Kiamat. Berkata Puasa, “Ya Tuhan, Engkau larang hamba-Mu makan dan memuaskan syahwat pada siang hari, dan sekarang ia meminta syafaat padaku karena itu.” (HR Ahmad).
Tidak berpuasa seorang manusia satu hari dalam jihad fi sabilillah kecuali dengan itu Allah menghindarkan dirinya dari neraka selama tujuh puluh tahun. (HR al-Bukhari dan Muslim).
Tentang indahnya bulan Ramadhan, Nabi yang mulia mengatakan:
Seandainya manusia mengetahui kebaikan-kebaikan bulan Ramadhan, niscaya mereka mengharapkan sepanjang tahun adalah bulan Ramadhan. (HR Ibn Abi Dunya).
Bagaimana dengan kita, apakah juga mengharapkan sepanjang tahun menjadi bulan Ramadhan?
Apa yang kita dapat di bulan suci ini,,,,???
Pertanyaan penting setelah kita melaksanakan puasa Ramadhan sekian hari lamanya adalah, apa yang sudah kita dapatkan dari puasa kali ini? Jawabannya tentu berpulang pada bagaimana kita memaknai puasa Ramadhan itu sendiri. Bila puasa dimaknai sekadar tidak makan dan minum serta tidak melakukan yang membatalkan puasa, tentu hanya itu pula yang bakal didapat. Puasa memang merupakan ibadah dalam bentuk tidak mengkonsumsi makanan dan minuman serta tidak melakukan hal yang membatalkan puasa pada siang hari Ramadhan. Itu betul. Akan tetapi, Nabi sendiri menyatakan:
Bukanlah puasa dari sekadar menahan makan dan minum tapi puasa yang sesungguhnya adalah menahan dari laghwu dan rafats. (HR Ibn Khuzaimah).
Itu menunjukkan bahwa ada makna yang lebih dalam dari sekadar menahan lapar dan dahaga.
Selama puasa, kita dilarang makan dan minum serta berhubungan seksual dengan istri atau suami kita. Padahal, makanan dan minuman itu halal, serta suami atau istri pun juga halal. Ternyata, dengan tekad dan kemauan yang besar, kita bisa. Nah, bila untuk menjauhi yang halal saja bisa, mestinya dengan tekad yang sama, semua perkara yang haram, lebih bisa lagi kita ditinggalkan.
Puasa Ramadhan memang adalah bulan riyâdhah (latihan) untuk meningkatkan kemauan kita untuk taat kepada aturan Allah. Bila berhasil, kelak di penghujung bulan Ramadhan kita benar-benar bisa disebut muttaqîn (orang yang bertakwa), yakni orang yang mempunyai kemauan yang kuat untuk senantiasa melaksanakan perintah dan menjauhi larangan Allah SWT. Artinya, semestinya pada bulan lain setelah Ramadhan, kita menjadi lebih taat kepada syariat-Nya.
Lalu, mengapa kenyataannya tidak demikian? Tetap saja, kemaksiatan terjadi di mana-mana. Karena negeri ini rakyatnya mayoritas Muslim, pelaku kejahatan juga tentu kebanyakan Muslim. Pelacuran dan perjudian marak di mana-mana; pornografi dan pornoaksi tetap saja terjadi; korupsi makin menjadi-jadi; dan sebagainya. Jika demikian, mana pengaruh puasa yang setiap tahun dilaksanakan?
Kita ternyata memang selama ini kurang peduli terhadap esensi ibadah. Shalat rajin, maksiat juga rajin. Haji ditunaikan, korupsi digalakkan. Bacaan al-Quran dilombakan, tetapi ajarannya dilecehkan.Nabi Muhamad saw bersabda :
Betapa banyak orang berpuasa tidak mendapatkan apa-apa kecuali lapar dan betapa banyak orang yang menghidupkan malam tidak mendapatkan apa-apa kecuali begadangnya saja. (HR Ibn Majah).
Oleh sebab itu selagi masih ada kesempatan mari kita jalani bulan suci ini dengan sungguh - sungguh.
Sepenggal Kisah Hidup Pendakwah Sejati
“Sepenggal Kisah Hidup Pendakwah Sejati nan Santun Al-Maghfurlah Gus
Miek”
Sebuah Wajah Kerinduan
KH. Hamim Djazuli, atau biasa dipanggil Gus Miek, adalag sosok ulama multitalenta yang dikenal banyak kalangan mulai dari kalangan guru sufi, seniman, birokrat, preman, bandar judi, kiai-kiai NU dan para aktivis. Namanya begitu melegenda karena memiliki banyak kekhasandan kekhususan. Ia berdakwah dengan cara yang nyentrik, tidak lazim, karena teramat jarang mubaligh berdakwah seperti cara-cara yang ditempuh oleh beliau.
Gus Miek dianggap oleh banyak orang memiliki kemampuan supranatural. Banyak kesaktian ditempelkan pada reputasinya. Banyak orang yang rela antre berlama-lama untuk bisa bertemu dengan Gus Miek dengan berbagai keperluan. Kemampuan supranatural itu, dalam istilah pesantren, dinamakan khariqul ‘adat. Kalangan awam memandang kemampuan semacam itu sebagai suatu keanehan.
Namun, di mata Gus Dur, kenyentrikan Gus Miek terletak pada kearifannya yang telah menembus batasan agama. Melalui transendensi keimanannya, ia tidak lagi melihat kesalahan pada keyakinan orang beragama atau berkepercayaan lain. Contohnya, Gus Miek bersikap membimbing kepada Ayu Wedhayanti, seorang Hindu yang kini telah berpindah hati ke Islam, seperti yang dilakukannya terhadap Machica Mochtar, penyanyi asal Ujungpandang yang muslim.
Gus Miek, karena itu, tidak segan melepas jubah kekiaiannya dan bercengkerama dengan para penikmat hiburan malam di diskotek, club malam, bar dan coffee shop. Ibarat kata, di mata Gus Miek, seorang bajingan dan seorang suci adalah sama; manusia. Dan manusia memiliki potensi untuk memperbaiki diri.
“Kerinduannya kepada realisasi potensi kebaikan pada diri manusia inilah yang menurut saya menjadikan Gus Miek supranatural,” kata Gus Dur dalam buku Gus Dur Menjawab Tantangan Zaman, terbitan Kompas, Jakarta, 1999.
Masa Kecil Hingga ke Pernikahan
Hamim Tohari Djazuli adalah nama lengkapnya. Beliau dilahirkan pada 17 Agustus 1940 di Kediri dari pasangan KH. Jazuli Utsman dan Nyai Radhiyah. Nyai Radhiyah ini memiliki jalur keturunan sampai kepada Nabi Muhammad Saw., sebagai keturunan ke-32 dari Imam Hasan bin Ali bin Abi Thalib Ra. dengan Siti Fathimah az-Zahra.
Sejak kecil, Gus Miek sudah tampak unik. Dia tidak suka banyak bicara, suka menyendiri. Dan bila berjalan selalu menundukkan kepala. Akan tetapi Gus Miek juga sering masuk ke pasar, melihat-lihat penjual di pasar, sering melihat orang mancing di sungai. Bila keluarganya berkumpul, Gus Miek selalu mengambil tempat paling jauh.
Pada awalnya Gus Miek disekolahkan oleh KH. Jazuli Utsman di SR (Sekolah Rakyat), tetapi tidak selesai karena dia sering membolos. Setelah itu Gus Miek belajar al-Quran kepada ibunya, kepada Hamzah, Khoirudin, dan Hafidz. Ketika pelajaran belum selesai Gus Miek sudah minta khataman. Para gurunya jadi geleng-geleng kepala.
Pada tahun 1960 Gus Miek menikah dengan Lilik Suyati dari Setonogedong. Pernikahan ini atas saran dari KH. Dalhar dan disetujui KH. Mubasyir Mundzir, salah satu guru Gus Miek. Gadis itulah yang menurut gurunya akan sanggup mendampingi hidupnya, dengan melihat tradisi dan kebiasaan Gus Miek untuk berdakwah keluar rumah.
Pada awalnya pernikahan Gus Miek dengan gadis Setonogedong ditentang oleh kedua orangtuanya, KH. Jazuli Utsman dan Nyai Radhiyah. Setelah melalui proses yang panjang akhirnya pernikahan itu disetujui. Saat itu Gus Miek sudah berdakwah ke diskotek-diskotek, ke tempat perjudian dan lain-lain.
Merintis Jamaah Dzikrul Ghofilin
Dari berbagai perjalanan, riyadhah dan tabarrukan, Gus Miek akhirnya menyusun kembali wirid-wirid secara tersendiri yang didapatkan dari para gurunya. Pada awalnya Gus Miek mendirikan Jamaah Mujahadah Lailiyah tahun 1962. Sampai tahun 1971 jamaah yang dirintis Gus Miek ini sudah cukup luas.
Metamorfosis dari komunits yang dibangun Gus Miek, semakin menampakkan bahwa ia mengembangkan tradisi wirid di luar kelompok tarekat yang sudah mapan di kalangan NU. Jamaah Mujahadah Lailiyah yang dibangunnya berkembang menjadi Dzikrul Ghafilin. Pada tahun 1971-1973 susunan wirid-wirid Dzikrul Ghafilin diusahakan untuk dicetak, terutama setelah jangkauan dakwah Gus Miek telah menjangkau Jember.
Bersama-sama KH. Achmad Shidiq yang awalnya sangat menentang, tetapi akhirnya menjadi sahabatnya, naskah wirid Dzikrul Ghafilin berhasil dicetak. Naskah-naskah yang tercetak dibagikan kepada jaringan jamaah Gus Miek; di Jember di bawah payung KH. Achmad Shidiq, di Klaten di bawah payung KH. Rahmat Zuber, di Yogyakarta di bawah payung KH. Daldiri Lempuyangan, dan di Jawa Tengah di bawah payung KH. Hamid Kajoran Magelang.
Disamping mengorganisir Dzikrul Ghafilin, Gus Miek pada tahun 1986 juga mengorganisir sema’an al-Quran. Beberapa bulan kemudian sema’an ini dinamakan Jantiko. Tahun 1987 sema’an al-Quran Jantiko mulai dilakukan di Jember. Saat itu KH. Achmad Shidiq sudah menjadi Rais Am Syuriyah PBNU yang diangkat oleh Muktamar NU ke-27 di Situbondo tahun 1984.
Dibandingkan Dzikrul Ghafilin, jamaah Jantiko ini lebih cepat berkembang. Pada tahun 1989, Jantiko kemudian diubah namanya menjadi Jantiko Mantab atau Jantiko Man Taba. Ada juga yang mengartikan Mantab sebagai Majelis Nawaitu Tapa Brata. Dikatakan juga Man Taba itu berarti siapa bertaubat. Jantiko Mantab ini kemudian berkembang ke berbagi daerah.
Berdakwah ke Tempat-tempat Maksiat
Suatau hari, Gus Miek dengan diikuti Gus Farid masuk ketempat hiburan malam. Di tempat orang suka dugem dan mengkonsumsi narkoba serta minum-minuman keras, Gus Farid coba menutupi identitas Gus Miek agar tidak dilihat dan dikenali pengunjung.
“Gus, apakah sampean jamaahnya kurang banyak? Apakah Sampean kurang kaya? Kok masuk tempat seperti ini?” tanya Gus Farid penasaran. Usai melontarkan pertanyaan, Gus Farid langsung kaget karena tak menyangka Gus Miek terlihat emosi mendengar pertanyaan itu.
“Biar nanti saya cemar di mata manusia, tetapi tenar di mata Allah. Apalah arti sebuah nama. Paling mentok, nama Gus Miek hancur di mata ummat. Semua orang yang di tempat ini juga menginginkan surga, bukan hanya jamaah saja yang menginginkan. Tetapi, siapa yang berani masuk? Kiai mana yang berani masuk ke sini?” kata Gus Miek dengan penuh emosi.
Gus Farid terdiam. Tak lama setelah itu Gus Miek pun kembali ceria seolah lupa dengan pertanyaan Gus Farid yang baru saja disampaikan.
Kota Surabaya, salah satu kota yang menjadi favorit Gus Miek, dan salah satu tempat yang paling sering beliau singgahi adalah cafe di Hotel Elmi. Suasana malam khas cafe yang gaduh, dimana hentakan musik menggebrak malam, dan di sudut-sudut ruangan penuh kepulan asap rokok yang menyesakkan dada, berbaur bau alkohol yang menusuk hidung.
Di salah satu sudut pojok ruangan cafe terlihat seorang lelaki berwajah teduh sedang mengobrol dikelilingi beberapa orang. Tubuhnya sedang, rambutnya ikal dan di antara jemari tangannya terselip sebatang rokok.
Terdengar kalimat-kalimat yang menyejukkan dan sesekali terdengar tawa segar. Menurut orang-orang yang ada di sekelilingnya tersebut, lelaki itu selain ada di cafe ini juga dikenal di beberapa diskotik di Surabaya. Dan mereka semua memberikan julukan “Kyai Nyentrik”.
Gus Miek dan Al-Quran
Gus Miek seorang penghapal al-Quran. Karena bagi Gus Miek, al-Quran adalah tempat mengadukan segala permasalahan hidupnya yang tidak bisa dimengerti orang lain. Dengan mendengarkan dan membaca al-Quran, Gus Miek merasakan ketenangan dan tampak dirinya berdialog dengan Tuhan.
Jadi menurut Gus Miek, secara batiniah sema’an al-Quran adalah hiburan yang hasanah, hiburan yang baik. Selain juga merupakan upaya pendekatan diri kepada Allah dan sebagai tabungan di hari akhir.
Satu-satunya upaya untuk mengutarakan sesuatu kepada Allah menurut beliau ialah lewat majelis sema’an al-Quran ini. Karena berdasarkan sebuah hadits Nabi Saw.: “Barangsiapa ingin berkomunikasi dengan Allah, maka beradalah di tengah-tengah suatu majelis yang di dalamnya mengalun al-Quran.”
Gus Miek dan Kacamata Hitam
Pernah suatu ketika Gus Farid (anak KH. Ahmad Shiddiq yang sering menemani Gus Miek) mengajukan pertanyaan yang sering mengganjal di hatinya, pertama bagaimana perasaan Gus Miek tentang wanita?
“Aku setiap kali bertemu wanita walaupun secantik apapun dia dalam pandangan mataku yang terlihat hanya darah dan tulang saja. Jadi jalan untuk syahwat tidak ada”, jawab Gus Miek.
Kedua, Gus Farid menayakan tentang kebiasaan Gus Miek memakai kaca mata hitam baik itu di jalan maupun saat bertemu dengan tamu. “Apabila aku bertemu orang di jalan atau tamu aku diberi pengetahuaan tentang perjalanan hidupnya sampai mati. Apabila aku bertemu dengan seseorang yang nasibnya buruk maka aku menangis, maka aku memakai kaca mata hitam agar orang tidak tahu bahwa aku sedang menagis”, jawab Gus Miek.
Wafatnya Gus Miek
Gus Miek wafat pada 5 Juni 1993. Jenazahnya dimakamkan di Pemakaman Tambak Kediri, diiringi ratusan ribu kaum muslimin. Di pemakaman ini pula KH. Achmad Shiddiq dimakamkan, di sebelah timur makam Gus Miek. Di pemakaman ini pula terdapat tidak kurang dari 22 orang yang kebanyakan menjadi guru sekaligus murid Gus Miek.
Mari ikhlaskan hati kita untuk menghadiahkan surat al-Fatihah kepada beliau-beliau yang telah mendahului kita. ‘Ala kulli niyyatin shalihah wa ila hadhratin Nabiy Saw. al-Fatihah...
Sebuah Wajah Kerinduan
KH. Hamim Djazuli, atau biasa dipanggil Gus Miek, adalag sosok ulama multitalenta yang dikenal banyak kalangan mulai dari kalangan guru sufi, seniman, birokrat, preman, bandar judi, kiai-kiai NU dan para aktivis. Namanya begitu melegenda karena memiliki banyak kekhasandan kekhususan. Ia berdakwah dengan cara yang nyentrik, tidak lazim, karena teramat jarang mubaligh berdakwah seperti cara-cara yang ditempuh oleh beliau.
Gus Miek dianggap oleh banyak orang memiliki kemampuan supranatural. Banyak kesaktian ditempelkan pada reputasinya. Banyak orang yang rela antre berlama-lama untuk bisa bertemu dengan Gus Miek dengan berbagai keperluan. Kemampuan supranatural itu, dalam istilah pesantren, dinamakan khariqul ‘adat. Kalangan awam memandang kemampuan semacam itu sebagai suatu keanehan.
Namun, di mata Gus Dur, kenyentrikan Gus Miek terletak pada kearifannya yang telah menembus batasan agama. Melalui transendensi keimanannya, ia tidak lagi melihat kesalahan pada keyakinan orang beragama atau berkepercayaan lain. Contohnya, Gus Miek bersikap membimbing kepada Ayu Wedhayanti, seorang Hindu yang kini telah berpindah hati ke Islam, seperti yang dilakukannya terhadap Machica Mochtar, penyanyi asal Ujungpandang yang muslim.
Gus Miek, karena itu, tidak segan melepas jubah kekiaiannya dan bercengkerama dengan para penikmat hiburan malam di diskotek, club malam, bar dan coffee shop. Ibarat kata, di mata Gus Miek, seorang bajingan dan seorang suci adalah sama; manusia. Dan manusia memiliki potensi untuk memperbaiki diri.
“Kerinduannya kepada realisasi potensi kebaikan pada diri manusia inilah yang menurut saya menjadikan Gus Miek supranatural,” kata Gus Dur dalam buku Gus Dur Menjawab Tantangan Zaman, terbitan Kompas, Jakarta, 1999.
Masa Kecil Hingga ke Pernikahan
Hamim Tohari Djazuli adalah nama lengkapnya. Beliau dilahirkan pada 17 Agustus 1940 di Kediri dari pasangan KH. Jazuli Utsman dan Nyai Radhiyah. Nyai Radhiyah ini memiliki jalur keturunan sampai kepada Nabi Muhammad Saw., sebagai keturunan ke-32 dari Imam Hasan bin Ali bin Abi Thalib Ra. dengan Siti Fathimah az-Zahra.
Sejak kecil, Gus Miek sudah tampak unik. Dia tidak suka banyak bicara, suka menyendiri. Dan bila berjalan selalu menundukkan kepala. Akan tetapi Gus Miek juga sering masuk ke pasar, melihat-lihat penjual di pasar, sering melihat orang mancing di sungai. Bila keluarganya berkumpul, Gus Miek selalu mengambil tempat paling jauh.
Pada awalnya Gus Miek disekolahkan oleh KH. Jazuli Utsman di SR (Sekolah Rakyat), tetapi tidak selesai karena dia sering membolos. Setelah itu Gus Miek belajar al-Quran kepada ibunya, kepada Hamzah, Khoirudin, dan Hafidz. Ketika pelajaran belum selesai Gus Miek sudah minta khataman. Para gurunya jadi geleng-geleng kepala.
Pada tahun 1960 Gus Miek menikah dengan Lilik Suyati dari Setonogedong. Pernikahan ini atas saran dari KH. Dalhar dan disetujui KH. Mubasyir Mundzir, salah satu guru Gus Miek. Gadis itulah yang menurut gurunya akan sanggup mendampingi hidupnya, dengan melihat tradisi dan kebiasaan Gus Miek untuk berdakwah keluar rumah.
Pada awalnya pernikahan Gus Miek dengan gadis Setonogedong ditentang oleh kedua orangtuanya, KH. Jazuli Utsman dan Nyai Radhiyah. Setelah melalui proses yang panjang akhirnya pernikahan itu disetujui. Saat itu Gus Miek sudah berdakwah ke diskotek-diskotek, ke tempat perjudian dan lain-lain.
Merintis Jamaah Dzikrul Ghofilin
Dari berbagai perjalanan, riyadhah dan tabarrukan, Gus Miek akhirnya menyusun kembali wirid-wirid secara tersendiri yang didapatkan dari para gurunya. Pada awalnya Gus Miek mendirikan Jamaah Mujahadah Lailiyah tahun 1962. Sampai tahun 1971 jamaah yang dirintis Gus Miek ini sudah cukup luas.
Metamorfosis dari komunits yang dibangun Gus Miek, semakin menampakkan bahwa ia mengembangkan tradisi wirid di luar kelompok tarekat yang sudah mapan di kalangan NU. Jamaah Mujahadah Lailiyah yang dibangunnya berkembang menjadi Dzikrul Ghafilin. Pada tahun 1971-1973 susunan wirid-wirid Dzikrul Ghafilin diusahakan untuk dicetak, terutama setelah jangkauan dakwah Gus Miek telah menjangkau Jember.
Bersama-sama KH. Achmad Shidiq yang awalnya sangat menentang, tetapi akhirnya menjadi sahabatnya, naskah wirid Dzikrul Ghafilin berhasil dicetak. Naskah-naskah yang tercetak dibagikan kepada jaringan jamaah Gus Miek; di Jember di bawah payung KH. Achmad Shidiq, di Klaten di bawah payung KH. Rahmat Zuber, di Yogyakarta di bawah payung KH. Daldiri Lempuyangan, dan di Jawa Tengah di bawah payung KH. Hamid Kajoran Magelang.
Disamping mengorganisir Dzikrul Ghafilin, Gus Miek pada tahun 1986 juga mengorganisir sema’an al-Quran. Beberapa bulan kemudian sema’an ini dinamakan Jantiko. Tahun 1987 sema’an al-Quran Jantiko mulai dilakukan di Jember. Saat itu KH. Achmad Shidiq sudah menjadi Rais Am Syuriyah PBNU yang diangkat oleh Muktamar NU ke-27 di Situbondo tahun 1984.
Dibandingkan Dzikrul Ghafilin, jamaah Jantiko ini lebih cepat berkembang. Pada tahun 1989, Jantiko kemudian diubah namanya menjadi Jantiko Mantab atau Jantiko Man Taba. Ada juga yang mengartikan Mantab sebagai Majelis Nawaitu Tapa Brata. Dikatakan juga Man Taba itu berarti siapa bertaubat. Jantiko Mantab ini kemudian berkembang ke berbagi daerah.
Berdakwah ke Tempat-tempat Maksiat
Suatau hari, Gus Miek dengan diikuti Gus Farid masuk ketempat hiburan malam. Di tempat orang suka dugem dan mengkonsumsi narkoba serta minum-minuman keras, Gus Farid coba menutupi identitas Gus Miek agar tidak dilihat dan dikenali pengunjung.
“Gus, apakah sampean jamaahnya kurang banyak? Apakah Sampean kurang kaya? Kok masuk tempat seperti ini?” tanya Gus Farid penasaran. Usai melontarkan pertanyaan, Gus Farid langsung kaget karena tak menyangka Gus Miek terlihat emosi mendengar pertanyaan itu.
“Biar nanti saya cemar di mata manusia, tetapi tenar di mata Allah. Apalah arti sebuah nama. Paling mentok, nama Gus Miek hancur di mata ummat. Semua orang yang di tempat ini juga menginginkan surga, bukan hanya jamaah saja yang menginginkan. Tetapi, siapa yang berani masuk? Kiai mana yang berani masuk ke sini?” kata Gus Miek dengan penuh emosi.
Gus Farid terdiam. Tak lama setelah itu Gus Miek pun kembali ceria seolah lupa dengan pertanyaan Gus Farid yang baru saja disampaikan.
Kota Surabaya, salah satu kota yang menjadi favorit Gus Miek, dan salah satu tempat yang paling sering beliau singgahi adalah cafe di Hotel Elmi. Suasana malam khas cafe yang gaduh, dimana hentakan musik menggebrak malam, dan di sudut-sudut ruangan penuh kepulan asap rokok yang menyesakkan dada, berbaur bau alkohol yang menusuk hidung.
Di salah satu sudut pojok ruangan cafe terlihat seorang lelaki berwajah teduh sedang mengobrol dikelilingi beberapa orang. Tubuhnya sedang, rambutnya ikal dan di antara jemari tangannya terselip sebatang rokok.
Terdengar kalimat-kalimat yang menyejukkan dan sesekali terdengar tawa segar. Menurut orang-orang yang ada di sekelilingnya tersebut, lelaki itu selain ada di cafe ini juga dikenal di beberapa diskotik di Surabaya. Dan mereka semua memberikan julukan “Kyai Nyentrik”.
Gus Miek dan Al-Quran
Gus Miek seorang penghapal al-Quran. Karena bagi Gus Miek, al-Quran adalah tempat mengadukan segala permasalahan hidupnya yang tidak bisa dimengerti orang lain. Dengan mendengarkan dan membaca al-Quran, Gus Miek merasakan ketenangan dan tampak dirinya berdialog dengan Tuhan.
Jadi menurut Gus Miek, secara batiniah sema’an al-Quran adalah hiburan yang hasanah, hiburan yang baik. Selain juga merupakan upaya pendekatan diri kepada Allah dan sebagai tabungan di hari akhir.
Satu-satunya upaya untuk mengutarakan sesuatu kepada Allah menurut beliau ialah lewat majelis sema’an al-Quran ini. Karena berdasarkan sebuah hadits Nabi Saw.: “Barangsiapa ingin berkomunikasi dengan Allah, maka beradalah di tengah-tengah suatu majelis yang di dalamnya mengalun al-Quran.”
Gus Miek dan Kacamata Hitam
Pernah suatu ketika Gus Farid (anak KH. Ahmad Shiddiq yang sering menemani Gus Miek) mengajukan pertanyaan yang sering mengganjal di hatinya, pertama bagaimana perasaan Gus Miek tentang wanita?
“Aku setiap kali bertemu wanita walaupun secantik apapun dia dalam pandangan mataku yang terlihat hanya darah dan tulang saja. Jadi jalan untuk syahwat tidak ada”, jawab Gus Miek.
Kedua, Gus Farid menayakan tentang kebiasaan Gus Miek memakai kaca mata hitam baik itu di jalan maupun saat bertemu dengan tamu. “Apabila aku bertemu orang di jalan atau tamu aku diberi pengetahuaan tentang perjalanan hidupnya sampai mati. Apabila aku bertemu dengan seseorang yang nasibnya buruk maka aku menangis, maka aku memakai kaca mata hitam agar orang tidak tahu bahwa aku sedang menagis”, jawab Gus Miek.
Wafatnya Gus Miek
Gus Miek wafat pada 5 Juni 1993. Jenazahnya dimakamkan di Pemakaman Tambak Kediri, diiringi ratusan ribu kaum muslimin. Di pemakaman ini pula KH. Achmad Shiddiq dimakamkan, di sebelah timur makam Gus Miek. Di pemakaman ini pula terdapat tidak kurang dari 22 orang yang kebanyakan menjadi guru sekaligus murid Gus Miek.
Mari ikhlaskan hati kita untuk menghadiahkan surat al-Fatihah kepada beliau-beliau yang telah mendahului kita. ‘Ala kulli niyyatin shalihah wa ila hadhratin Nabiy Saw. al-Fatihah...
Halal Bihalal dan Sejarahnya
Pengertian Halal Bihalal dan Sejarahnya
Secara bahasa, halal
bihalal adalah kata majemuk dalam bahasa Arab dan berarti halal dengan
halal atau sama-sama halal. Tapi kata majemuk ini tidak dikenal dalam
kamus-kamus bahasa Arab maupun pemakaian masyarakat Arab sehari-hari.
Masyarakat Arab di Makkah dan Madinah justru biasa mendengar para jamaah haji
Indonesia –dengan keterbatasan kemampuan bahasa Arab mereka- bertanya ‘halal?’
saat bertransaksi di pasar-pasar dan pusat perbelanjaan. Mereka menanyakan
apakah penjual sepakat dengan tawaran harga yang mereka berikan, sehingga
barang menjadi halal untuk mereka. Jika sepakat, penjual akan balik mengatakan
“halal”. Atau saat ada makanan atau minuman yang dihidangkan di tempat umum,
para jamaah haji biasa bertanya “halal?” untuk memastikan bahwa
makanan / minuman tersebut gratis dan halal untuk mereka.
Kata majemuk ini
tampaknya memang ‘made in Indonesia’. Kata halal bihalal justru
diserap Bahasa Indonesia dan diartikan sebagai “hal maaf-memaafkan setelah
menunaikan ibadah puasa Ramadhan, biasanya diadakan di sebuah tempat
(auditorium, aula, dsb) oleh sekelompok orang dan merupakan suatu
kebiasaan khas Indonesia.” [1]
Penulis Iwan Ridwan
menyebutkan bahwa halal bihalal adalah suatu tradisi berkumpul
sekelompok orang Islam di Indonesia dalam suatu tempat tertentu untuk saling
bersalaman sebagai ungkapan saling memaafkan agar yang haram menjadi halal.
Umumnya kegiatan ini diselenggarakan setelah melakukan salat Idul Fitri.[2] Kadang-kadang, acara halal
bihalal juga dilakukan di hari-hari setelah Idul Fitri dalam bentuk
pengajian, ramah tamah atau makan bersama.
Konon, tradisi halal
bihalal mula-mula dirintis oleh KGPAA Mangkunegara I (lahir 8 April
1725), yang terkenal dengan sebutan ‘Pangeran Sambernyawa’. Untuk menghemat
waktu, tenaga, pikiran, dan biaya, maka setelah salat Idul Fitri diadakan
pertemuan antara raja dengan para punggawa dan prajurit secara serentak di
balai istana. Semua punggawa dan prajurit dengan tertib melakukan sungkem
kepada raja dan permaisuri. Apa yang dilakukan oleh Pangeran Sambernyawa itu
kemudian ditiru oleh organisasi-organisasi Islam dengan istilah halal
bihalal. Kemudian instansi-instansi pemerintah/swasta juga mengadakan halal
bihalal, yang pesertanya meliputi warga masyarakat dari berbagai pemeluk
agama.[3]
Halal bihalal dengan makna
seperti di atas juga tidak ditemukan penyebutannya di kitab-kitab para ulama.
Sebagian penulis dengan bangga menyebutkan bahwa halal-bihalal adalah
hasil kreativitas bangsa Indonesia dan pribumisasi ajaran Islam di tengah
masyarakat Indonesia[4]. Namun, dalam kaca mata ilmu agama, hal
seperti ini justru patut dipertanyakan; karena semakin jauh suatu amalan dari
tuntunan kenabian, ia akan semakin diragukan keabsahannya. Islam telah sempurna
dan penambahan padanya justru mengurangi kesempurnannya. Tulisan pendek ini
berusaha mengulas keabsahan tradisi halal bihalal menurut
pandangan syariah.
Dari beberapa
pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan halal
bihalal bukanlah tradisi saling mengunjungi di hari raya Idul Fitri
yang juga umum dilakukan di dunia Islam yang lain. Tradisi ini keluar dari
pembahasan tulisan ini, meskipun juga ada acara bermaaf-maafan di sana.
Hari raya dalam Islam harus berlandaskan dalil (tauqifiy)
Hukum asal dalam bab ibadah adalah bahwa semua ibadah haram sampai ada dalilnya. Sedangkan dalam bab adat dan muamalah, segala perkara adalah halal sampai ada dalil yang mengharamkannya. Perayaan hari raya (‘id) sebenarnya lebih dekat kepada bab mu’amalah. Tapi masalah ‘id adalah pengecualian, dan dalil-dalil menunjukkan bahwa ‘id adalah tauqifiy (harus berlandaskan dalil). Hal ini karena ‘id tidak hanya adat, tapi juga memiliki sisi ibadah. Asy-Syathibi mengatakan:
Hukum asal dalam bab ibadah adalah bahwa semua ibadah haram sampai ada dalilnya. Sedangkan dalam bab adat dan muamalah, segala perkara adalah halal sampai ada dalil yang mengharamkannya. Perayaan hari raya (‘id) sebenarnya lebih dekat kepada bab mu’amalah. Tapi masalah ‘id adalah pengecualian, dan dalil-dalil menunjukkan bahwa ‘id adalah tauqifiy (harus berlandaskan dalil). Hal ini karena ‘id tidak hanya adat, tapi juga memiliki sisi ibadah. Asy-Syathibi mengatakan:
وإن العاديات من حيث هي
عادية لا بدعة فيها، ومن حيث يُتعبَّد بها أو تُوْضع وضْع التعبُّد تدخلها البدعة.
“Dan sungguh adat
istiadat dari sisi ia adat, tidak ada bid’ah di dalamnya. Tapi dari sisi ia
dijadikan/diposisikan sebagai ibadah, bisa ada bid’ah di dalamnya.” [5]
Dan tauqifiy dalam
perayaan ‘id memiliki dua sisi:
1.
Tauqifiy dari sisi landasan penyelenggaraan, di mana Nabi –shallallah
‘alaih wasallam- membatasi hanya ada dua hari raya dalam satu tahun, dan
hal ini berdasarkan wahyu.
عَنْ أَنَسِ بْنَ مَالِكٍ قَالَ: قَدِمَ رَسُولُ
اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِينَةَ وَلَهُمْ يَوْمَانِ
يَلْعَبُونَ فِيهِمَا، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ: مَا هَذَانِ الْيَوْمَانِ؟ قَالُوا: كُنَّا نَلْعَبُ فِيهِمَا فِي
الْجَاهِلِيَّةِ. قَالَ: إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ قَدْ أَبْدَلَكُمْ بِهِمَا
خَيْرًا مِنْهُمَا؛ يَوْمَ الْفِطْرِ وَيَوْمَ النَّحْرِ.
Anas bin Malik berkata: “Rasulullah –shallallah
‘alaih wasallam- datang ke Madinah dan penduduknya memiliki dua hari di
mana mereka bermain di dalamnya. Maka beliau bertanya: “Apakah dua hari ini?”
Mereka menjawab: “Dahulu kami biasa bermain di dua hari ini semasa Jahiliyah.”
Beliaupun bersabda: “Sungguh Allah telah menggantikannya dengan dua hari
yang lebih baik, yaitu Idul Fitri dan Idul Adha.” (HR Abu Dawud no. 1134,
dihukumi shahih oleh al-Albani) [6]Maka, sebagai bentuk pengalaman dari
hadits ini, pada zaman Nabi –shallallah ‘alaih wasallam- dan generasi
awal umat Islam tidak dikenal ada perayaan apapun selain dua hari raya
ini [7], berbeda dengan umat Islam zaman ini
yang memiliki banyak sekali hari libur dan perayaan yang tidak memiliki
landasan syar’i.
2.
Tauqifiy dari sisi tata cara pelaksanaannya, karena dalam Islam,
hari raya bukanlah sekedar adat, tapi juga ibadah yang sudah diatur tata cara
pelaksanaannya. Setiap ibadah yang dilakukan di hari raya berupa
shalat, takbir, zakat, menyembelih dan haramnya berpuasa telah
diatur. Bahkan hal-hal yang dilakukan di hari raya berupa keleluasaan dalam
makan minum, berpakaian, bermain dan bergembira juga tetap dibatasi oleh
aturan-aturan syariah [8].
Pengkhususan membutuhkan dalil
Di satu sisi Islam
telah menjelaskan tata cara perayaan hari raya, tapi di sisi lain tidak memberi
batasan tentang beberapa sunnah dalam perayaan ‘id, seperti
bagaimana menampakkan kegembiraan, bagaimana berhias dan berpakaian, atau
permainan apa yang boleh dilakukan. Syariah Islam merujuk perkara ini kepada adat
dan tradisi masing-masing.
Jadi, boleh saja umat
Islam berkumpul, bergembira, berwisata, saling berkunjung dan mengucapkan
selamat. Bahkan kegembiraan ini perlu ditekankan agar anggota keluarga merasakan hari yang berbeda dan
puas karenanya, sehingga mereka tidak tergoda lagi dengan hari besar-hari besar
yang tidak ada dasarnya dalam Islam [9].
Namun mengkhususkan
hari Idul Fitri dengan bermaaf-maafan membutuhkan dalil tersendiri. Ia tidak
termasuk dalam menunjukkan kegembiraan atau berhias yang memang disyariatkan di
hari raya. Ia adalah wazhifah (amalan) tersendiri yang
membutuhkan dalil.
Nabi –shallallah
‘alaih wasallam- dan para sahabat tidak pernah melakukannya, padahal faktor
pendorong untuk bermaaf-maafan juga sudah ada pada zaman mereka. Para sahabat
juga memiliki kesalahan kepada sesama, bahkan mereka adalah orang yang paling
bersemangat utnuk membebaskan diri dari kesalahan kepada orang lain. Tapi hal
itu tidak lantas membuat mereka mengkhususkan hari tertentu untuk
bermaaf-maafan.
Jadi, mengkhususkan
Idul Fitri untuk bermaaf-maafan adalan penambahan syariah baru dalam Islam
tanpa landasan dalil. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata:
فَكُلُّ أمرٍ يَكُوْنُ
المُقْتَضِي لِفعْلِه عَلَى عَهْدِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ مَوْجُوْداً لَوْ كَانَ مَصْلَحَةً وَلَمْ يُفْعَلْ، يُعْلَمُ أنَّهُ
لَيْسَ بِمَصْلَحَةٍ.
“Maka setiap perkara
yang faktor penyebab pelaksanaannya pada masa Rasulullah –shallallah ‘alaih
wasallam- sudah ada jika itu maslahat (kebaikan), dan
beliau tidak melakukannya, berarti bisa diketahui bahwa perkara tersebut
bukanlah kebaikan.” [10]
Serupa dengan bersalam-salaman setelah shalat dan mengkhususkan
ziarah kubur di hari raya
Karena tidak dikenal
selain di Indonesia dan baru muncul pada abad-abad terakhir ini, tidak banyak
perkataan ulama yang membahas secara khusus tentang halal bihalal.
Namun ada masalah lain yang memiliki kesamaan karakteristik dengan halal
bihalal dan sudah banyak dibahas oleh para ulama sejak zaman dahulu,
yaitu masalah berjabat tangan atau bersalam-salaman setelah shalat dan
pengkhususan ziarah kubur di hari raya.
Berjabat tangan adalah
sunnah saat bertemu dengan orang lain, sebagaimana dijelaskan dalam hadits
berikut:
عَنِ الْبَرَاءِ قَالَ:
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا مِنْ مُسْلِمَيْنِ
يَلْتَقِيَانِ فَيَتَصَافَحَانِ إِلاَّ غُفِرَ لَهُمَا قَبْلَ أَنْ
يَتَفَرَّقَاََََ
Dari al-Bara’ (bin
‘Azib) ia berkata: Rasulullah –shallallah ‘alaih wasallam- bersabda: “Tidaklah
dua orang muslim bertemu lalu berjabat tangan, melainkan keduanya sudah
diampuni sebelum berpisah.” (HR. Abu Dawud no. 5.212 dan at-Tirmidzi no.
2.727, dihukumi shahih oleh al-Albani) [11]
Tapi ketika sunnah ini
dikhususkan pada waktu tertentu dan diyakini sebagai sunnah yang dilakukan
terus menerus setiap selesai shalat, hukumnya berubah; karena pengkhususan ini
adalah tambahan syariah baru dalam agama. Di samping itu, bersalama-salaman
setelah shalat juga membuat orang tersibukkan dari amalan sunnah setelah shalat
yaitu dzikir [12].
Ibnu Taimiyyah ditanya
tentang masalah ini, maka beliau menjawab: “Berjabat tangan setelah shalat bukanlah
sunnah, tapi itu adalah bid’ah, wallahu a’lam“ [13].
Lebih jelas lagi, para
ulama menghitung pengkhususan ziarah kubur di hari raya termasuk bid’ah[14] ,padahal ziarah kubur juga
merupakan amalan yang pada dasarnya dianjurkan dalam Islam, seperti dijelaskan
dalam hadits berikut:
عَنْ بُرَيْدَةَ قَالَ:
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنِّي كُنْتُ
نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُورِ فَزُورُوهَا؛ فَإِنَّهَا تُذَكِّرُ
الْآخِرَة
Dari Buraidah
(al-Aslami) ia berkata: Rasulullah –shallallah ‘alaih wasallam-
bersabda: “Sungguh aku dulu telah melarang kalian berziarah kubur, maka
sekarang berziarahlah; karena ia mengingatkan akhirat.” (HR Ashhabus Sunan,
dan lafazh ini adalah lafazh Ahmad (no. 23.055) yang dihukumi shahih oleh
Syu’aib al-Arnauth)
Demikian pula berjabat
tangan dan bermaaf-maafan adalah bagian dari ajaran Islam. Namun ketika
dikhususkan pada hari tertentu dan diyakini sebagai sunnah yang terus menerus
dilakukan setiap tahun, hukumnya berubah menjadi tercela. Wallahu a’lam.
Beberapa pelanggaran syariah dalam halal bihalal
Di samping tidak
memiliki landasan dalil, dalam halal bihalal juga sering
didapati beberapa pelanggaran syariah, di antaranya:
1.
Mengakhirkan permintaan maaf hingga datangnya Idul Fitri. Ketika
melakukan kesalahan atau kezhaliman pada orang lain, sebagian orang menunggu
Idul Fitri untuk meminta maaf, seperti disebutkan dalam ungkapan yang terkenal
“urusan maaf memaafkan adalah urusan hari lebaran”. Dan jadilah “mohon maaf
lahir batin” ucapan yang “wajib” pada hari Raya Idul Fitri. Padahal belum tentu
kita akan hidup sampai Idul Fitri dan kita diperintahkan untuk segera
menghalalkan kezhaliman yang kita lakukan, sebagaimana keterangan hadits
berikut:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: مَنْ كَانَتْ عِنْدَهُ مَظْلِمَةٌ
لِأَخِيهِ فَلْيَتَحَلَّلْهُ مِنْهَا؛ فَإِنَّهُ لَيْسَ ثَمَّ دِينَارٌ وَلا
دِرْهَمٌ مِنْ قَبْلِ أَنْ يُؤْخَذَ لِأَخِيهِ مِنْ حَسَنَاتِهِ، فَإِنْ لَمْ
يَكُنْ لَهُ حَسَنَاتٌ أُخِذَ مِنْ سَيِّئَاتِ أَخِيهِ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ
Dari Abu Hurairah bahwasanya Rasulullah –shallallah
‘alaih wasallam- bersabda: “Barang siapa melakukan kezhaliman kepada
saudaranya, hendaklah meminta dihalalkan (dimaafkan) darinya; karena di sana
(akhirat) tidak ada lagi perhitungan dinar dan dirham, sebelum kebaikannya
diberikan kepada saudaranya, dan jika ia tidak punya kebaikan lagi, maka
keburukan saudaranya itu akan diambil dan diberikan kepadanya”. (HR.
al-Bukhari nomor 6.169)
2.
Ikhtilath (campur baur lawan jenis) yang bisa membawa ke maksiat yang
lain, seperti pandangan haram dan zina. Karenanya, Nabi –shallallah ‘alaih
wasallam- melarangnya, seperti dalam hadits Abu
Usaid berikut:
عَنْ أَبِى أُسَيْدٍ الأَنْصَارِىِّ أَنَّهُ
سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ وَهُوَ خَارِجٌ مِنَ
الْمَسْجِدِ فَاخْتَلَطَ الرِّجَالُ مَعَ النِّسَاءِ فِى الطَّرِيقِ فَقَالَ
رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- لِلنِّسَاءِ « اسْتَأْخِرْنَ فَإِنَّهُ
لَيْسَ لَكُنَّ أَنْ تَحْقُقْنَ الطَّرِيقَ عَلَيْكُنَّ بِحَافَاتِ الطَّرِيقِ ».
فَكَانَتِ الْمَرْأَةُ تَلْتَصِقُ بِالْجِدَارِ حَتَّى إِنَّ ثَوْبَهَا
لَيَتَعَلَّقُ بِالْجِدَارِ مِنْ لُصُوقِهَا بِهِ.
Dari Abu Usaid al-Anshari ia mendengar
Rasulullah –shallallah ‘alaih wasallam- berkata saat keluar dari masjid
dan kaum pria bercampur baur dengan kaum wanita di jalan. Maka beliau
mengatakan kepada para wanita: “Mundurlah kalian, kalian tidak berhak
berjalan di tengah jalan, berjalanlah di pinggirnya.” Maka para wanita melekat
ke dinding, sehingga baju mereka menempel di dinding, saking lekatnya mereka
kepadanya”. (HR. Abu Dawud no. 5272, dihukumi hasan oleh al-Albani) [15]
3.
Berjabat tangan dengan lawan jenis yang bukan mahram. Maksiat
ini banyak diremehkan oleh banyak orang dalam halal bihalalatau
kehidupan sehari-hari, padahal keharamannya telah dijelaskan dalam hadits berikut:
عن مَعْقِل بن يَسَارٍ يَقُولُ: قَالَ رَسُولُ
اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:”لأَنْ يُطْعَنَ فِي رَأْسِ أَحَدِكُمْ
بِمِخْيَطٍ مِنْ حَدِيدٍ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَمَسَّ امْرَأَةً لا تَحِلُّ
لَهُ”
Dari Ma’qil bin Yasar ia berkata: Rasulullah –shallallah
‘alaih wasallam- bersabda: “Sungguh jika seorang di antara kalian
ditusuk kepalanya dengan jarum dari besi, itu lebih baik baginya daripada
menyentuh wanita yang tidak halal baginya”. (HR. ath-Thabrani,
dihukumi shahih oleh al-Albani) [16]
Al-Albani berkata: “Ancaman keras bagi orang
yang menyentuh wanita yang tidak halal baginya. Di dalamnya terkandung dalil
haramnya menjabat tangan wanita, karena tidak diragukan lagi bahwa
berjabat tangan termasuk menyentuh. Banyak umat Islam yang jatuh dalam
kesalahan ini, bahkan sebagian ulama.” [17]
Penutup
Dari paparan di atas,
bisa kita simpulkan bahwa yang dipermasalahkan dalam halal bihalal adalah
pengkhususan bermaaf-maafan di hari raya. Pengkhususan ini adalah penambahan
syariah baru yang tidak memiliki landasan dalil. Jadi seandainya
perkumpulan-perkumpulan yang banyak diadakan untuk menyambut Idul Fitri kosong
dari agenda bermaaf-maafan, maka pertemuan itu adalah pertemuan yang diperbolehkan;
karena merupakan ekspresi kegembiraan yang disyariatkan Islam di hari raya, dan
batasannya merujuk ke adat dan tradisi masyarakat setempat. Tentunya jika
terlepas dari pelanggaran-pelanggaran syariah, antara lain yang sudah kita
sebutkan di atas. Selain di Indonesia, pertemuan yang umum disebut mu’ayadah (saling
mengucapkan selamat ‘id) ini juga ada di belahan dunia Islam lain
tanpa pengingkaran dari ulama.
Bagi yang mengatakan “ah,
cuma begini saja kok tidak boleh!“, ingatlah bahwa Nabi –shallallah
‘alaih wasallam- menyebut setiap perkara baru dalam agama sebagai syarrul
umuur (seburuk-buruk perkara). Maka bagaimana kita bisa meremehkannya?
Setiap muslim harus berhati-hati dengan perkara-perkara baru yang muncul
belakangan. Amalkanlah sunnah dan Islam yang murni, karena itulah
wasiyat Nabi tercinta –shallallah ‘alaih wasallam-. Wallahu
a’lam.
Dari artikel 'Menyingkap Keabsahan Halal Bihalal — Muslim.Or.Id'
Hikmah Halal Bi Halal
Assalamu’alaikum warohmatullohi
wabarokatuh
Alhamdulillahi wahdah , shodaqo
wa’dah , wanashoro “abdah , wa a’azza jundahu wa hazamal ahzaba wahdah.
Allohumma fasholli wasallim ‘alaa man fiihi uswatun hasanah wa ‘alaa Alihi wa
ashhabihi waman walahu. AMMA BA”DU
Setelah
satu bulan penuh kita menunaikan ibadah puasa Romadhon, kita dapat berjumpa-
kembali
dalam suasana halal bihalal yang penuh kebahagiaan, penuh keberkahan dan yang
lebih penting dari itu adalah bahwa kita telah memperoleh kemenangan melawan
hawa nafsu kita selama kita berpuasa Romadhon.
Sehingga
yang tampak dimata saya sekarang ini insya Alloh semuanya adalah calon-calon
penduduk surga. Mengapa saya katakan demikian ? karena bpk / ibu yang ada diha-
dapan
saya sekarang ini insya Alloh memiliki ciri-ciri penduduk surga yang empat
macam, apa saja : yang pertama wajhun malihun/wajah yang elok, cerah dan ceria
yang
kedua Lisanun fasihun / lidah yang fasih.
yang
ketiga Qolbun Naqiyyun / hati yang bersih.
yang
kekempat Yaddun Sakhiyyun / tangan yang dermawan.
Yang
sangat berbeda sekali dengan tanda-tanda penduduk neraka yang juga mempunyai
empat ciri : yang pertama Wajhun ’Abisun / muka yang masam (spjg hdpnya
cemberut melulu)
yang
kedua Lisanun Fahisyun / Lidah yang keji (yg keluar dr mulutnya hanya makian,
sumpah serapah, fitnah, adu domba dan kebohongan)
yang
ketiga Qolbun Syadiidun/hati yang keras membatu (hati yg tdk pernah dapat
menerima nasehat /masukan dari siapapun, dia merasa plg benar sendiri)
yang
keempat Yaddun Bakhiilun/ tangan yang bakhil, pelit, medit, mere ge hese,
merekepet jahe.
Bpk/Ibu
Hadirin rohimakumulloh.
Harapan
kita semoga kita semua termasuk orang-orang yang beruntung setelah menjalani
Ibadah
puasa romadhon selama satu bulan penuh. Amiin ya Robbal ’alamiin.
Perlu
bpk/ibu ketahui ada empat gambaran keadaan manusia ciptaan Alloh, yaitu :
1. Untung di Dunia >< Rugi
diakhirat (kehdpnnya berlimpah,hartanya bnyk,isterinya
bnyk. Tapi tidak kenal ibadah sama sekali) = Rugi
2. Rugi di Dunia >< Untung
diakhirat (hdpnya serba kekurangan tapi ibadahnya
mantab)
= Untung
3. Rugi di dunia >< Rugi
diakhirat (sdh didunianya melarat diakhirat keblangsat) =
Rugi
4. Untung didunia >< Untung
diakherat (dunianya Oke, Ibadahnya juga oke)= Ini
org2 yg Ideal dan sanga-sangat beruntung.
Mudah2an
kita semua dijadikan termasuk golongan yang keempat dengan sababiyahnya
Bulan
suci Romadhon. Amin ya robbal alamiin.
Bpk/Ibu
Hadirin rohimakumulloh.
Pada
kesempatan kali ini kita adakan acara halal bihalal yang menjadi rangkaian dari
hari raya Idul Fitri yang telah kita rayakan dua minggu yang lalu, oleh sebab
itu perlu saya ingatkan sebuah amtsal yang berbunyi :
ليس العيد
لمن لبس الجديد ولكن العيد لمن طاعته و تقواه تزيد و عن المعاص بعيد
Bukanlah Ied itu bagi orang yang berpakaian baru, akan tetapi Ied
itu adalah untuk orang yang ta’atnya dan taqwanya bertambah dan menjauhi segala
macam bentuk kemaksiatan.Dengan demikian orang-orang yang ta’at dan taqwanya
bertambah, juga orang yang dapat menjauhi kemaksiatanlah yang dikategorikan sbg
orang2 yang sukses dalam menjalani ibadah Romadhon. Sebagaimana Alloh SWT telah
berfirman dalam surat Al A’la ayat 14 dan 15 :
قد أفلح
من تزكي ۞ وذكر اسم ربه فصلى
“Sungguh beruntung orang2 yang membersihkan diri (dengan beriman)
dan ingat nama Alloh, lalu dia sholat”.
Menurut
keterangan dari ayat ini, tanda-tanda orang yang mendapat kemenangan dibulan
Romadhon selama melakukan puasa adalah :
1. Selalu
mensucikan diri dari segala bentuk kemaksiatan, kejahatan, kedzholiman ,
kesombongan, kemunafikan, kemungkaran, rakus harta kekayaaan dsb.
2. Selalu
melakukan dzikrulloh, baik sesudah sholat maupun diluar waktu sholat. Karena
dengan dzikir inilah manusia akan bersih hatinya, tenang dan selalu terkontrol
tidak mudah terjerumus dalam kesesatan.
3. Selalu
menegakkan sholat, terutama sholat wajib lima waktu disamping sholat-sholat
sunnah lainnya dan juga menjauhi hal-hal yang menjadi penyebab ditolaknya
sholat kita. Perlu bpk / ibu ketahui ada 10 gol. Yang tidak diterima sholatnya
oleh Alloh SWT. Yaitu :
1.Seseorang
yang sholat sendirian tanpa baca apa-apa
2.Orang
yang sholat tapi tidak mau zakat.
3.Orang
yang mengimami suatu kaum, tapi kaum itu membencinya.
4. Budak
yang lari dari majikannya
5.
Peminum khomr atau pemabuk.
6.
Seorang isteri yang dimurkai suaminya.
7.
Seorang perempuan yang sholat tanpa tutup
8.
Pemimpin yg sombong dan kejam
9.Orang
pemakan riba
10. Orang
yang sholat tetapi sholatnya itu tidak mencegah dari perbuatan keji dan
munkar
Dileburnya
segala kesalahan dan dosa-dosa, baik yang berhubungan dengan Alloh maupun
dosa-dosa yang berhubungan dengan sesama manusia, sebagai buah dari puasa
romadhon kita. Oleh sebab itu bila kita merasa mempunyai kesalahan dengan orang
lain , janganlah segan-segan minta maaf dan ridhonya, sebab sekecil apapun
nilai kesalahan akan dituntut dihadapan Alloh hakim Yang Maha Adil, bila belum
kita mintakan maaf dan ridhonya dari orang yang bersngkutan. Karena itu
janganlah sekali kali meremehkan kesalahan yang pernah kita perbuat pada siapa
saja, kapan saja dan dimana saja. Segeralah minta maaf, lebih2 pada momen2 yang
tepat seperti ini. Sebaliknya bila kita dimintai maaf oleh yang pernah berbuat
kesalahan dengan kita, janganlah berkeras hati, angkuh pendirian , kaku, tidak
mau memaafkan orang lain. Sifat tercela seperti itu hendaknya lekas dibuang
jauh-jauh. Itu adalah kesombongan, Alloh SWT saja mau memaafkan kesalahan
hambanya sebesar apapun, tapi justru kenapa kita tidak bisa. Bpk/Ibu yang saya
hormati, janganlah kita merasa sok suci, marilah sama-sama kita sadari bila
orang lain bisa melakukan kesalahan terhadap kita, maka tidak menutup
kemungkinan kita juga suatu saat bisa berbuat salah kepada orang lain. Ada yang
Bpk/Ibu perlu ketahui orang yang tidak mau memaafkan orang lain berarti dia
tidak pernah merasa salah, merasa paling suci dari pada orang lain Ini sifat
yang sangat berbahaya sekali dan Alloh SWT. Sangat melarangnya ”Janganlah kamu
menganggap dirimu sendiri telah suci.Alloh lebih tahu siapa-siapa orang yang
bertakwa”. Karena itu janganlah berkeras hati , angkuh pendirian , tidak mau
memaafkan orang lain. Ingatlah bahwa orang hidup itu lemas orang mati itu kaku.
Oleh sebab itulah, Bpk/Ibu sdrku seiman seagama janganlah kita kaku seperti
orang mati tidak mau memaafkan orang lain . Marilah kita berdoa kepada Alloh
agar halal bihalal kita diterima oleh Alloh SWT. Dengan ucapan :
Taqobbalallohu
minna wamingkum taqobbal ya kariim
Minal 'aidzin Wal Fa'izin mohon maaf lahir dan bathin
PENGURUS FKK TPQ KEC.WARU
Pengurus FKK TPQ Kec.Waru mengucapkan Minal 'aidzin Wal Fa'izin mohon maaf lahir dan bathin
Nomor : 011/II. FKK-TPQ.15.18.C/
I / 2013. Sidoarjo, 30 juli 2013 M
Lamp :
- 23 Ramadhan 1434 H
Hal : Pemberitahuan sekaligus undangan
Kepada
Yang Terhormat
Ustadz/Ustadzah FKK TPQ Kecamatan Waru
Di Tempat
السّلام عليكم ورحمة الله وبركاته
Salam silaturrahim
Kami haturkan, Semoga Kita senantiasa mendapat
Naungan Rahmat dan Ridha dari Allah SWT.
Dalam upaya menjalin tali Silaturahim sesama Pembina,
Pengurus dan Kepala TPQ Anggota FKK TPQ serta Ustadz/ah TPQ Se-Kecamatan Waru, Maka dengan ini
Kami mengharap kehadiran Ustadz/ah pada acara Rapat Triwulan dan HALAL
BIHALAL FKK TPQ yang Insya
Allah akan di laksanakan pada :
H a r i : Ahad
Tanggal : 25 Agustus 2013
P u k u l : 08:30. - Selesai WIB (mohon tepat waktu )
T e m p a t : TPQ Al Qadar Desa Pepe legi ( Korwil 1 )
Acara : 1. Pembukaan ( Mc Utdzah
Munawaroh )
2.
Pembacaan Ayat suci AL Qur’an Oleh: Ust. Ibrahim
3.
Sambutan- sambutan :
- Sambutan Ketua FKK TPQ KEC.WARU
- Sambutan Pembina FKK TPQ KEC.WARU
4. Mau’idhotul
Hasanah oleh (K.H. .........................) dari sidoarjo
Catatan untuk
diperhatikan :
Semua TPQ diharap hadir
:
1.
Setiap TPQ
Maximal 3 Ustadz/ahnya untuk menghadiri acara ini.
2.
Setiap
Kepala TPQ Wajib untuk memakai Pakaian dari FKK TPQ Kec Waru.
Demikian
Undangan yang dapat Kami sampaikan, atas Perhatian dan kehadirannya disampaikan
banyak terima kasih. Wallahul Muwaffiq Ilaa Aqwamith Thoriq.
والسّلام عليكم ورحمة الله وبركاته
Pengurus
FKK TPQ Kec. Waru
K e t
u a S e k r e t a r i s
TTD TTD
Moch. Junaidi S.Pd.I Luqman Baihaqi S.HI
Sabtu, 18 Mei 2013
SEBAGIAN PENYELEWENGAN YANG TERJADI DALAM PERKAWINAN YANG WAJIB DIHINDARKAN/DIHILANGKAN
1. Pacaran
Kebanyakan orang sebelum melangsungkan perkawinan biasanya "Berpacaran" terlebih dahulu, hal ini biasanya dianggap sebagai masa perkenalan individu, atau masa penjajakan atau dianggap sebagai perwujudan rasa cinta kasih terhadap lawan jenisnya.
Kebanyakan orang sebelum melangsungkan perkawinan biasanya "Berpacaran" terlebih dahulu, hal ini biasanya dianggap sebagai masa perkenalan individu, atau masa penjajakan atau dianggap sebagai perwujudan rasa cinta kasih terhadap lawan jenisnya.
Adanya anggapan seperti ini, kemudian melahirkan konsesus bersama antar berbagai pihak untuk
menganggap masa berpacaran sebagai sesuatu yang lumrah dan wajar-wajar saja. Anggapan seperti ini adalah anggapan yang salah dan keliru. Dalam berpacaran sudah pasti tidak bisa dihindarkan dari berintim-intim dua insan yang berlainan jenis, terjadi pandang memandang dan terjadi sentuh menyentuh, yang sudah jelas semuanya haram hukumnya menurut syari'at Islam.
menganggap masa berpacaran sebagai sesuatu yang lumrah dan wajar-wajar saja. Anggapan seperti ini adalah anggapan yang salah dan keliru. Dalam berpacaran sudah pasti tidak bisa dihindarkan dari berintim-intim dua insan yang berlainan jenis, terjadi pandang memandang dan terjadi sentuh menyentuh, yang sudah jelas semuanya haram hukumnya menurut syari'at Islam.
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :
"Artinya : Jangan sekali-kali seorang laki-laki bersendirian dengan seorang perempuan, melainkan si perempuan itu bersama mahramnya". (Hadits Shahih Riwayat Ahmad, Bukhari dan Muslim).
Jadi dalam Islam tidak ada kesempatan untuk berpacaran dan berpacaran hukumnya haram.
2. Tukar Cincin
Dalam peminangan biasanya ada tukar cincin sebagai tanda ikatan, hal ini bukan dari ajaran Islam. (Lihat Adabuz-Zafat, Nashiruddin Al-Bani)
Dalam peminangan biasanya ada tukar cincin sebagai tanda ikatan, hal ini bukan dari ajaran Islam. (Lihat Adabuz-Zafat, Nashiruddin Al-Bani)
3. Menuntut Mahar Yang Tinggi
Menurut Islam sebaik-baik mahar adalah yang murah dan mudah, tidak mempersulit atau mahal. Memang mahar itu hak wanita, tetapi Islam menyarankan agar mempermudah dan melarang menuntut mahar yang tinggi.
Menurut Islam sebaik-baik mahar adalah yang murah dan mudah, tidak mempersulit atau mahal. Memang mahar itu hak wanita, tetapi Islam menyarankan agar mempermudah dan melarang menuntut mahar yang tinggi.
Adapun cerita teguran seorang wanita terhadap Umar bin Khattab yang membatasi mahar wanita, adalah cerita yang salah karena riwayat itu sangat lemah. (Lihat Irwa'ul Ghalil 6, hal. 347-348).
4. Mengikuti Upacara Adat
Ajaran dan peraturan Islam harus lebih tinggi dari segalanya. Setiap acara, upacara dan adat istiadat yang bertentangan dengan Islam, maka wajib untuk dihilangkan. Umumnya umat Islam dalam cara perkawinan selalu meninggikan dan menyanjung adat istiadat setempat, sehingga sunnah-sunnah Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam yang benar dan shahih telah mereka matikan dan padamkan.
Ajaran dan peraturan Islam harus lebih tinggi dari segalanya. Setiap acara, upacara dan adat istiadat yang bertentangan dengan Islam, maka wajib untuk dihilangkan. Umumnya umat Islam dalam cara perkawinan selalu meninggikan dan menyanjung adat istiadat setempat, sehingga sunnah-sunnah Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam yang benar dan shahih telah mereka matikan dan padamkan.
Sungguh sangat ironis...!. Kepada mereka yang masih menuhankan adat istiadat jahiliyah dan melecehkan konsep Islam, berarti mereka belum yakin kepada Islam.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman :
"Artinya : Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin ?". (Al-Maaidah : 50).
Orang-orang yang mencari konsep, peraturan, dan tata cara selain Islam, maka semuanya tidak akan diterima oleh Allah dan kelak di Akhirat mereka akan menjadi orang-orang yang merugi, sebagaimana firman Allah Ta'ala :
"Artinya : Barangsiapa yang mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi". (Ali-Imran : 85).
5. Mengucapkan Ucapan Selamat Ala Kaum Jahiliyah
Kaum jahiliyah selalu menggunakan kata-kata Birafa' Wal Banin, ketika mengucapkan selamat kepada kedua mempelai. Ucapan Birafa' Wal Banin (=semoga mempelai murah rezeki dan banyak anak) dilarang oleh Islam.
Kaum jahiliyah selalu menggunakan kata-kata Birafa' Wal Banin, ketika mengucapkan selamat kepada kedua mempelai. Ucapan Birafa' Wal Banin (=semoga mempelai murah rezeki dan banyak anak) dilarang oleh Islam.
Dari Al-Hasan, bahwa 'Aqil bin Abi Thalib nikah dengan seorang wanita dari Jasyam. Para tamu mengucapkan selamat dengan ucapan jahiliyah : Birafa' Wal Banin. 'Aqil bin Abi Thalib melarang mereka seraya berkata : "Janganlah kalian ucapkan demikian !. Karena Rasulullah shallallhu 'alaihi wa sallam melarang ucapan demikian". Para tamu bertanya :"Lalu apa yang harus kami ucapkan, wahai Abu Zaid ?".
'Aqil menjelaskan :
'Aqil menjelaskan :
"Ucapkanlah : Barakallahu lakum wa Baraka 'Alaiykum" (= Mudah-mudahan Allah memberi kalian keberkahan dan melimpahkan atas kalian keberkahan). Demikianlah ucapan yang diperintahkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam". (Hadits Shahih Riwayat Ibnu Abi Syaibah, Darimi 2:134, Nasa'i, Ibnu Majah, Ahmad 3:451, dan lain-lain).
Do'a yang biasa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam ucapkan kepada seorang mempelai ialah :
"Baarakallahu laka wa baarakaa 'alaiyka wa jama'a baiynakumaa fii khoir"
Do'a ini berdasarkan hadits shahih yang diriwayatkan dari Abu Hurairah:
'Artinya : Dari Abu hurairah, bahwasanya Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam jika mengucapkan selamat kepada seorang mempelai, beliau mengucapkan do'a : (Baarakallahu laka wabaraka 'alaiyka wa jama'a baiynakuma fii khoir) = Mudah-mudahan Allah memberimu keberkahan, Mudah-mudahan Allah mencurahkan keberkahan atasmu dan mudah-mudahan Dia mempersatukan kamu berdua dalam kebaikan". (Hadits Shahih Riwayat Ahmad 2:38, Tirmidzi, Darimi 2:134, Hakim 2:183, Ibnu Majah dan Baihaqi 7:148).
6. Adanya Ikhtilath
Ikhtilath adalah bercampurnya laki-laki dan wanita hingga terjadi pandang memandang, sentuh menyentuh, jabat tangan antara laki-laki dan wanita. Menurut Islam antara mempelai laki-laki dan wanita harus dipisah, sehingga apa yang kita sebutkan di atas dapat dihindari semuanya.
Ikhtilath adalah bercampurnya laki-laki dan wanita hingga terjadi pandang memandang, sentuh menyentuh, jabat tangan antara laki-laki dan wanita. Menurut Islam antara mempelai laki-laki dan wanita harus dipisah, sehingga apa yang kita sebutkan di atas dapat dihindari semuanya.
7. Pelanggaran Lain
Pelanggaran-pelanggaran lain yang sering dilakukan di antaranya adalah musik yang hingar bingar
Pelanggaran-pelanggaran lain yang sering dilakukan di antaranya adalah musik yang hingar bingar
Langganan:
Komentar (Atom)